BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Sebanyak 73 dari total 362 cekdam rusak hingga Selasa (24/10). Diduga karena erosi hingga kurangnya pemeliharaan.
Bahkan, rerata cekdam mengering dan berdampak bagi pertanian. ‘’Tentu sangat berdampak di bidang pertanian,’’ ujar Kabid Pendayagunaan Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum (PU) SDA Bojonegoro Iwan Kristian.
Berdasar data dinas PU SDA, jumlah cekdam mencapai 362 cekdam. Rinciannya 245 cekdam berfungsi, 20 cekdam rusak ringan, 24 cekdam rusak sedang, dan 29 cekdam rusak berat. Artinya kerusakan terjadi di 73 cekdam. Sedangkan, 44 cekdam tidak diketahui kondisinya.
Iwan menjelaskan, rusaknya cekdam disebabkan banyak faktor. Di antaranya erosi, diterjang banjir bandang, umur cekdam, hingga kurangnya pemeliharaan. Rerata kerusakan berada di pintu air. ‘’Seperti pemeliharaan kurang baik di stempet pintu air cekdam,’’ jelasnya.
Dia melanjutkan, selain rusak rerata cekdam mengalami kekeringan karena kemarau panjang. Hanya sumber mata air seperti di Kecamatan Dander tidak mengering. Sehingga, sangat berdampak di bidang pertanian. Karena salah satu fungsi cekdam untuk mengairi lahan pertanian terutama padi.
‘’Antisipasi salah satunya ya reboisasi,’’ ujar pria domisili Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro Kota itu.
Selain itu, lanjut dia, juga dilakukan pengisian air cekdam yang mengering di sekitar Sungai Bengawan Solo seperti Kecamatan Kanor dan Baureno dengan cara memompa air bengawan.
Jika masyarakat membutuhkan bisa mengusulkan pembangunan cekdam. Tujuannya agar mengairi lahan pertanian dan menjadi sumber air baku. ‘’Untuk pemeliharaan bisa melalui desa atau kelompok tani (poktan),’’ jelas pria kelahiran Lamongan tersebut. (yna/msu)
Editor : Hakam Alghivari