LAMONGAN, Radar Lamongan - Harga sapi mengalami kenaikan dalam beberapa minggu ini. Berdasarkan pengamatan di lapangan, kenaikannya antara Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta per ekor. Untuk sapi ukuran kecil biasanya dijual dengan harga Rp 7 juta, sekarang naik menjadi Rp 7,5 juta.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan, Moch. Wahyudi mengatakan, dari laporan petugas ada kenaikan di beberapa pasar hewan. Penyebabnya permintaan konsumen meningkat, sehingga transaksi tidak hanya melibatkan penjual lokal saja. Namun, beberapa sapi dari kabupaten tetangga juga masuk. Seperti dari Kabupaten Tuban, Bojonegoro, dan Gresik.
‘’Pengawasan di pasar hewan tetap sama, karena kita meminimalisasi adanya virus baru, jadi ternak yang belum divaksin segera divaksin oleh petugas,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan.
Wahyudi menjelaskan, untuk kenaikan harga sapi murni karena kebutuhan tinggi. Sehingga siklus ekonomi, ketika kebutuhan naik, maka harga juga menyesuaikan. Karena petani tembakau sedang merasakan keuntungan yang cukup, sehingga banyak yang berinvestasi dengan membeli hewan ternak.
Selain petani tembakau, harga gabah dan tebu cenderung tinggi, yang membuat petani bergembira dengan membeli ternak. ‘’Beberapa untuk mengganti ternak yang dijual untuk kurban, tapi sebagian untuk investasi,” imbuhnya.
Menurut dia, untuk jumlah transaksi belum ada data pastinya. Namun, estimasi dalam dua tiga bulan transaksi mencapai 2.500 ekor. Sebaliknya untuk kambing justru mengalami penurunan permintaan, serta harganya cenderung stabil.
‘’Kalau kambing kebutuhan paling banyak saat kurban, sementara hari biasa cenderung normal,” ucapnya.
Wahyudi menambahkan, kenaikan harga sapi tidak berdampak pada daging yang dijual. Karena kenaikan ini terjadi untuk jenis anakan sapi, yang biasanya harga menyesuaikan dengan ukuran.
Sebaliknya untuk harga daging sapi karena sudah ada ketentuan HET, sehingga harga tidak bisa berubah jauh dari ketetapan. (rka/ind)
Editor : Hakam Alghivari