Oleh: Em. Syuhada’
"TITIK terendah seorang lelaki itu ketika merek rokoknya sudah mulai aneh-aneh."
Gus Kautsar mengucapkan kalimat itu sambil terkekeh dalam sebuah video pengajian yang entah di mana. Cak Kris menyaksikannya melalui media sosial di layar ponselnya yang retak di pojok kanan atas. Sendirian ia ngopi di warung Yu Sum yang lengang. Hanya kesiur angin yang sesekali menerpa wajahnya yang pucat.
Mendengar celotehan itu, Cak Kris segera melekatkan sebatang kretek yang terjepit di jarinya ke bibir, lalu matanya nanar menatap bungkus rokok yang tergeletak di atas meja. Sebuah merek tertulis: Marbol. Ia tersenyum kecut. Dada kirinya mendadak ngilu. Bukan karena paru-parunya bermasalah, melainkan karena sindiran itu menghujam tepat ke ulu hatinya. Dari mulutnya mengepulkan asap tebal berwarna putih, meliuk-liuk sebentar, lalu hilang dihembus angin.
Namanya Samudra Kristiawan. Orang-orang memanggilnya Cak Kris. Sebagai pegawai negeri sipil daerah, seragam cokelatnya sudah mulai memudar di beberapa bagian. Ia adalah potret dari istilah "gaji numpang lewat." Setiap tanggal satu, ponselnya bergetar menampilkan notifikasi mutasi rekening. Namun, belum sempat matanya dimanjakan oleh angka-angka itu, sistem bank sudah otomatis memotongnya. SK pegawainya sudah lama "sekolah" di bank, entah kapan lulusnya.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Pak Mujib dan Istrinya
Sisa gaji itulah yang harus diputar oleh Zainab, istrinya yang telah menemani hidupnya selama puluhan tahun. Perempuan berlesung pipit itu mampu menyulap remah-remah uang receh menjadi beras, sabun, lauk-pauk, dan segala kebutuhan hidup lainnya di tengah harga pasar yang terus menggila. Tapi kejeniusan Zainab ada batasnya juga. Anak sulungnya sedang menyusun skripsi di universitas negeri, sedangkan si bungsu sedang berjuang menghafal kitab di sebuah pesantren.
"Pak, kiriman untuk Nabila sudah telat seminggu. Pengurus pondok tadi mengirim pesan," ujar Zainab malam itu sambil melipat mukena. Suaranya datar, seperti kehabisan tenaga untuk sekadar mengeluh.
"Iya, Bu. Besok kuusahakan," jawab Cak Kris singkat. Matanya pura-pura fokus memperbaiki laptop yang sebenarnya tidak rusak.
"Uang ujian Tegar di kampus juga paling lambat besok sore. Kalau tidak dibayar, dia tidak bisa segera mengikuti ujian skripsi," Zainab menambahkan, kali ini nadanya terdengar berat.
Cak Kris menarik napas dalam-dalam. "Nanti aku coba pinjam ke Bang Jun."
"Utang lagi, Pak? Utang yang kemarin di koperasi saja belum beres!"
Cak Kris malah terkekeh. "Bu, bagi pegawai kecil seperti kita ini, utang itu seperti tabung oksigen. Kalau dicabut, kita mati. Lagipula, negara membangun gedung-gedung megah di tengah hutan sana juga memakai utang, bukan?"
Zainab hanya menggelengkan kepala, lalu masuk ke kamar tanpa suara. Ia pikir, apa yang disampaikan suaminya itu ada benarnya juga. Padahal kata orang, menjadi pegawai negeri itu enak, hidupnya sudah dijamin, bahkan sampai mati. Tapi gaji suaminya itu tak pernah naik, bahkan ketika harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi.
Esok paginya, Cak Kris berniat ketemu Bang Jun, tapi ia malah terjebak di kantin kantor bersama dua seniornya: Pakde Katno, seorang pembina tingkat satu yang sebentar lagi pensiun, dan Kang Pur, rekan sejawat yang terkenal galak di kantor tapi gemetar kalau dipanggil istrinya.
Cak Kris menyulut kreteknya. Asapnya yang berbau sangit memenuhi ruangan.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Bonar oleh Athiful Khoiri
"Kang, kang… sampean itu berseragam Garuda di dada, tapi rokokmu kok baunya seperti kemenyan," ledek Kang Pur sambil mengibas-ngibas tangan di depan wajahnya. "Ganti yang agak bermartabat sedikit, toh. Malu sama seragam!"
"Halah, sampeyan gaya betul," sahut Cak Kris. "Bermartabat itu urusan belakangan. Yang penting mulut ngebul. Bukankah jatah rokok sampeyan juga sudah disunat duluan oleh Nyonya Besar di rumah?"
Kang Pur tersedak, wajahnya mendadak masam. "Heh! Itu namanya suami idaman! Suami saleh itu memang harus mendahulukan kebutuhan istri, ketimbang keinginannya sendiri!"
Pakde yang duduk di pojok meja, menaikkan kacamata bacanya dengan wibawa seorang sesepuh yang sudah kenyang makan asam garam birokrasi. Ia menatap kedua juniornya dengan tatapan teduh, namun menusuk: "Sudah, tidak usah bertengkar soal rokok atau kebutuhan istri. Gaji kita ini sama-sama dicetak oleh negara hanya untuk mampir beberapa menit di rekening, lalu pindah ke rekening diler motor atau bank. Kita ini cuma sekadar kurir uang."
Pakde menghela napas panjang, lalu melempar koran pagi ke atas meja. Judul utama berita hari itu menampilkan foto pejabat yang tersenyum lebar memakai rompi oranye.
"Negara kita ini makin tidak karuan," lanjut Pakde sambil menggeleng-geleng. "Kalian lihat itu. Anggaran yang digembar-gemborkan bisa mengentaskan gizi buruk, yang katanya hasil efisiensi agar tidak dikorupsi, justru dikorupsi berjamaah triliunan rupiah! Bocah-bocah dikasih makan ampas sampai keracunan, pejabatnya kenyang makan uang haram."
"Lha, bener itu, Pakde," Cak Kris menyahut. "Pendidikan dan kesehatan sekarang bukan lagi prioritas. Anak saya baru saja masuk perguruan tinggi, katanya gratis, tapi uang 'sumbangan sukarela' untuk bangun aula nilainya bikin jantungan. Begitu sakit, pakai BPJS antreannya dari subuh, obatnya sering dibilang habis, sekarang malah pelayanannya makin sulit."
"Makanya berhenti merokok, Kang. Biar sehat," sela Kang Pur.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Senyum Rozali Oleh Athiful Khoiri
"Lho, Lek Kanif tidak merokok, Lek. Juga tidak minum kopi. Tapi sore kemarin kena serangan stroke, sekarang masuk ruang perawatan intensif," jawab Cak Kris cepat.
Cak Kris kemudian bercerita, anaknya yang di kampus itu pontang-panting mencari biaya. Negara sibuk beli alat pertahanan bekas dan membuat proyek megah yang tak perlu, tapi anggaran riset dan subsidi pendidikan justru dipotong. Masyarakat dipaksa bayar pajak tinggi hanya untuk mendanai gaya hidup anak pejabat yang pamer mobil mewah di media sosial.
Tiba-tiba Bang Jun datang dengan gayanya yang khas, memutar-mutar kunci mobil di jarinya. Bang Jun adalah tipe pegawai yang entah bagaimana ceritanya selalu punya uang. Konon ia memiliki sawah berhektar-hektar di kampung, warisan orang tuanya.
"Ada apa ini? Sepertinya seru. Sedang rapat kemiskinan, ya?" selorohnya tanpa beban.
Cak Kris langsung berdiri, menarik Bang Jun ke sudut, lalu menjelaskan kesulitannya yang berujung pada pinjaman. Setelah melewati proses negosiasi yang alot, Bang Jun akhirnya luluh dan mengeluarkan seikat uang tunai dari tasnya.
"Ini kupinjamkan, Cak. Tanpa bunga, tapi bulan depan harus utuh. Aku kasihan sama anakmu, bukan sama sampean. Kalau anakmu putus kuliah, kasihan nanti cuma bisa jadi buruh di pabrik sebelah," kata Yanto Pekik setengah berbisik, nadanya sengak tapi menyelamatkan.
Siang itu juga, Cak Kris memacu motornya menuju mesin ATM di sudut kota. Uang dari Bang Jun harus disetor tunai hari itu juga agar bisa ditransfer ke rekening anak-anaknya. Waktu sudah mepet; besok pagi sistem pembayaran sudah dikunci.
Suasana gerai ATM sepi. Udara penyejuk ruangan yang dingin menyapu wajah Cak Kris yang kuyu dan berkeringat. Ia memasukkan kartu, menekan nomor rahasia, lalu memilih menu Setor Tunai.
Pintu slot mesin terbuka. Cak Kris merapikan lembaran uang ratusan ribu, memastikan tidak ada sudut yang terlipat, lalu memasukkannya ke dalam mesin. Pintu slot menutup, terdengar suara berderik sibuk dari dalam perut mesin, mirip suara perutnya yang belum sarapan sejak pagi. Cak Kris menunggu dengan dada berdebar. Mesin itu bersuara agak lama.
Tiba-tiba, suara derik mesin berhenti. Lalu sunyi. Layar ATM memunculkan tulisan yang membuat Jantung Cak Kris seketika berhenti berdetak. Mesin sedang bermasalah. Beberapa detik kemudian, kartu ATM-nya dimuntahkan keluar, namun pintu tempat setoran tetap mengatup rapat. Uangnya tidak kembali. Dengan tangan gemetar, ia memasukkan kembali kartunya untuk memeriksa saldo. Tapi saldo tetap tak bertambah.
Dunia seperti runtuh. Uang yang ia masukkan tertelan bulat-bulat oleh robot besi tanpa meninggalkan jejak di angka digital. Cak Kris berdiri terpaku. Dadanya berkecamuk. Ia memukul dinding mesin ATM keras-keras, berharap benda itu memiliki sedikit nurani dan mengembalikan hak anak-anaknya. Tetapi mesin itu tetap dingin.
Cak Kris menengok ke luar, tapi kantor bank tutup karena hari Minggu. Satpam yang berjaga hanya menyodorkan secarik kertas berisi nomor layanan pelanggan dengan wajah formalitas tanpa dosa. Ia juga memberikan saran untuk menemui petugas pelayanan esok harinya.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Belenggu Upeti Desa Karang Gantung Oleh Suharsono
"Proses pengecekan dan laporan membutuhkan waktu empat belas hari kerja, Bapak," kata petugas di ujung telepon, dengan suara robotik perempuan yang terlampau ramah.
"Tapi anak saya ujiannya besok pagi, Mbak! Mesin Anda yang rusak, kenapa masa depan anak saya yang harus digadaikan?!" suara Cak Kris meninggi, bergetar antara amarah yang memuncak dan tangis yang tertahan.
"Kami sangat memahami situasi Anda, Bapak. Namun sesuai prosedur…"
Cak Kris langsung memutus sambungan telepon. Kata "prosedur" terdengar seperti umpatan paling kasar di telinganya. Birokrasi bank ternyata sama buruknya dengan birokrasi pemerintahan tempatnya bekerja: lambat, kaku, dan selalu mengorbankan orang-orang tak berdaya.
Ia keluar dari gerai ATM dengan perasaan yang tidak karuan. Dunia di sekitarnya bising oleh lalu lintas kota, namun di dalam kepalanya, semuanya mendadak senyap. Ia kemudian duduk di atas jok motornya yang diparkir di bawah pohon. Tangannya gemetar merogoh saku celana, mengeluarkan sebungkus kretek yang tinggal sebatang. Lalu menyulut dan menghisapnya dalam-dalam. Asap rokok seketika memenuhi udara.
Tapi aroma kretek itu berkali-kali lebih pahit dari biasanya. Cak Kris bergumam pada sunyi yang menampar wajahnya. Wajah Gus Kautsar seketika berkelebat, "Ternyata Njenengan salah, Gus. Ini bukan lagi titik terendah. Mesin sialan ini baru saja menggali lubang kubur yang lebih dalam untuk saya."(*)
*)Kepala di sebuah lembaga pendidikan dasar di Lamongan.
Editor : Farhan Reza Ardiansyah