Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Cerpen Radar Bojonegoro: Bukan Kursi Kami oleh Suharsono

Muhammad Suaeb • Sabtu, 4 Juli 2026 | 08:56 WIB
ILUSTRASI (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
ILUSTRASI (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Oleh: Suharsono 

GERBANG kampus itu menjulang menyerupai rahang raksasa, siap mengunyah masa depan, atau sekadar memuntahkannya kembali ke jalanan sebagai rongsokan. Di hadapannya, ribuan pasang kaki melangkah dengan keyakinan penuh yang habis dibeli oleh angka-angka di rekening bank orang tua mereka. Sementara aku? Aku hanya berdiri terpaku di batas garis aspal, memandangi selembar kertas bermaterai di tangan, sebuah surat pengunduran diri. Aku tidak sedang diusir; akulah yang memilih untuk melangkah mundur dari takdir yang sebenarnya sudah sah menjadi milikku.

Padahal, seminggu yang lalu, namaku terukir indah di lembar pengumuman nasional sebagai salah satu calon mahasiswa yang diterima di kampus favorit ini. Kebahagiaan sempat meledak di rumah kami yang atapnya sudah mulai lapuk, layaknya pesta kembang api di tengah malam sunyi. Ibuku menangis sujud, mengira bahwa kutukan kemiskinan yang mengikat leher keluarga kami selama turun-temurun akhirnya akan putus melalui selembar kertas pengumuman itu. Namun, kami keliru membedakan antara tiket masuk dan biaya sewa kursi di gedung mewah itu.

Ketika rincian biaya pendidikan itu datang, kegembiraan kami langsung menguap berganti menjadi sketsa horor mengerikan. Angka-angka nominal di lembar tagihan itu mendadak menjelma menjadi monster menuntut tumbal. Kami menghitung segala kemungkinan, menjumlahkan sisa tabungan, hingga menghitung harga jual satu-satunya petak sawah warisan yang tersisa. Hasilnya tetap sama: kenyataan hantamannya jauh lebih konkret daripada sekadar mimpi mulia tentang gelar sarjana.

"Kurang Tiga Puluh Juta," bisik ibuku malam itu dengan suara nyaris habis, matanya menatap nanar tumpukan koin dan lembaran uang lusuh di atas tikar pandan. Tiga puluh juta rupiah adalah sisa kekurangan dari komponen biaya paling akhir yang harus dibayarkan besok pagi. Angka yang teramat sepele bagi mereka yang mengendarai mobil mengkilap menuju gedung rektorat, namun bagi kami, uang segitu adalah harga diri yang sudah tidak memiliki tempat lagi untuk digadaikan.

Pagi ini, aku sengaja datang lebih awal bukan untuk mengemis kelonggaran waktu kepada birokrasi yang terkenal dingin. Aku datang membawa ketetapan hati yang paling getir: menyerah secara terhormat sebelum sistem itu sendiri menendangku keluar. Langkah kakiku terasa sangat berat di atas selasar gedung rektorat megah dan berarsitektur mahal ini, seolah setiap jengkal lantai marmer mengkilap bersih itu sedang menolak kehadiran sepasang sepatu murahku.

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Sebuah Kisah ‘’Pindang Berjalan’’ di Jalur Pantura

"Mau menyerahkan berkas daftar ulang, Dek?" tanya seorang petugas administrasi di balik kaca loket dengan senyum profesional yang kaku. Wajahnya necis, sewarna dengan parfum mahal yang memenuhi ruangan ber-AC itu, menguarkan aroma peradaban berbau uang. Aku tidak segera menjawab; jemariku justru menyodorkan selembar kertas pengunduran diri yang sudah kutandatangani di atas materai sepuluh ribu rupiah.

Perempuan itu mengernyitkan dahi, matanya membaca baris demi baris surat tersebut dengan kilatan ekspresi yang sulit diartikan. "Kamu yakin? Kamu ini masuk lewat jalur prestasi yang diperebutkan puluhan ribu orang, lho. Sayang sekali kalau dilepas begitu saja hanya karena masalah administratif," ujarnya, nadanya datar tanpa riak emosi sejati, seolah dia sedang mengomentari pelanggan yang membatalkan pesanan baju di toko kelontong.

"Saya sangat yakin, Bu," jawabku mantap, meski ada sesuatu yang patah secara paksa di dalam dadaku. "Pendidikan di sini terlalu mewah untuk ukuran isi dompet ibu saya yang hanya buruh tani. Kampus ini mungkin tempat yang tepat untuk menanam kecerdasan, tetapi sistem di dalamnya terlalu mahal untuk memelihara kemanusiaan kami."

Ia menghela napas panjang, lalu jemarinya mulai menari di atas papan ketik komputer dengan kecepatan mekanis. Angka digital di layar monitor di belakangnya berkedip-kedip, memproses pembatalan status kemahasiswaanku seolah-olah namaku hanyalah deretan kode biner yang tidak memiliki nyawa. Hanya dengan sekali tekan pada tombol 'Enter', seluruh perjuangan belajarku selama tiga tahun di sekolah menengah langsung lumat tak berbekas.

"Sudah diproses. Kamu resmi mengundurkan diri," ucapnya kemudian, mengembalikan salinan berkas kepadaku tanpa secuil pun rasa bersalah. Monitor komputer di depannya kembali menampilkan menu utama, siap menerima korban berikutnya yang mungkin memiliki nasib serupa atau sebaliknya, memiliki rekening bank cukup tebal untuk membeli hak istimewa di tempat ini.

Aku menerima kertas itu dengan tangan tidak lagi gemetar; ketakutan menghantuiku sepanjang malam kini telah berubah menjadi sebuah kebebasan aneh dan dingin. Aku berbalik, memunggungi loket terkunci itu dan berjalan keluar melintasi lorong-lorong megah rektorat dengan dada membusung penuh dendam sekaligus kelegaan. Aku tidak sedang meratapi kemelaratan, aku sedang merayakan keputusan terbaik untuk tidak menjadi budak dari sistem munafik ini.

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Ritus Penghancuran Berhala Diri oleh Suharsono

Di luar gedung, matahari siang mulai menyengat ubun-ubun dengan terik membakar kulit. Di dekat selasar, aku berpapasan dengan Pak Satpam berwajah kaku yang tadi sempat menyapaku di pos depan. Ia melihat kertas di tanganku, lalu menatap mataku dengan sejenis pemahaman mendalam yang tidak membutuhkan banyak penjelasan kalimat.

"Jadi, kamu milih pulang, Nak?" tanyanya serak, menjepit sebatang rokok di sela jarinya yang legam. Aku mengangguk perlahan, tersenyum tipis tanpa beban. "Iya, Pak. Kampus ini terlalu sempit untuk menampung cita-cita saya yang tidak punya tarif tetap. Saya memilih mencari jalan lain yang tidak mengunci pintunya hanya karena sisa uang administrasi."

Seorang pria tua penjual tahu asongan yang sedang beristirahat di bawah pohon peneduh ikut menoleh ke arah kami. Ia menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil yang sudah lapuk, memandangku dengan mata keriput dengan memancarkan kehangatan jernih. "Jangan berkecil hati, Le. Gerbang megah itu memisahkan yang mampu dan yang tidak, tapi tidak bisa membatasi takdir hidupmu jika kamu mau terus berjalan di atas aspal jalanan ini."

"Benar kata si Mbah," timpal Pak Satpam sambil mengembuskan asap rokoknya ke udara siang. "Banyak orang di dalam sana yang membayarnya lunas dengan uang melimpah, tetapi kehilangan kemanusiaan mereka setelah keluar dari gerbang besi itu. Kamu keluar dari sini dengan harga diri masih utuh, dan itu jauh lebih mahal dari angka mana pun."

Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup udara luar pagar yang terasa jauh lebih merdeka daripada atmosfer palsu di dalam ruang kuliah ber-AC tadi. Ilmu pengetahuan seharusnya seperti udara, bebas dihirup oleh siapa saja yang memiliki paru-paru untuk bernapas, bukan dikemas dalam botol-botol parfum mahal yang hanya bisa dibeli oleh hidung-hidung tertentu. Hari ini aku membuktikan bahwa jiwaku tidak lebih murah dari nominal tagihan jahanam itu.

Aku berjalan menuju gerbang keluar, melewati jeruji besi yang dicat megah yang kini terasa seperti pagar sangkar burung yang gagal mengurungku. Di luar sana, bising kendaraan dan debu jalanan menyambutku dengan kejujuran yang telanjang, sangat kontras dengan keheningan birokrasi di dalam rektorat yang penuh tipu daya. Aku merogoh saku, menemukan koin terakhir di dompetku, sebuah besi mati yang tak berharga bagi kampus, tetapi sangat bernilai untuk menyambung nyawa kami esok hari.

Ibuku pasti sedang menunggu di teras rumah dengan kecemasan yang bergelayut di wajah tuanya. Aku tidak sabar untuk pulang dan memeluknya, memberi tahu bahwa anaknya tidak kalah, melainkan telah memenangkan pertempuran melawan sistem yang angkuh dengan cara mengundurkan diri secara terhormat. Kami mungkin kehilangan kesempatan menjadi sarjana di universitas ternama ini, tetapi kami tidak kehilangan martabat sebagai manusia.

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Ka'bah di Kepala Lek Kanif oleh Em. Syuhada'

Maka, biar saja lembar pengumuman itu menjadi sejarah beku di arsip komputer mereka, sebab di atas angkot yang membawaku pulang siang ini, aku justru menemukan kembali arti kemerdekaan sesungguhnya. Ketika roda-roda besi ini menggelinding menjauhi menara gading angkuh itu, rasa sesak di dada perlahan luruh, berganti dengan keyakinan baru yang menyala bahwa bumi Tuhan terlalu luas untuk dikerdilkan oleh sekat-sekat administrasi birokrasi.

Aku akan melangkah masuk ke halaman rumah bukan sebagai pecundang yang layu, melainkan sebagai seorang pemenang yang berhasil menyelamatkan harga diri ibuku dari gadaian sistem tamak ini. Aku akan membuktikan bahwa masa depan kami tidak pernah sah ditentukan oleh angka tiga puluh juta itu, melainkan oleh keteguhan prinsip yang tetap tegak berdiri meski dihempas badai kemiskinan

Matahari tepat berada di atas kepala, ketika aku benar-benar menyeberangi garis aspal pembatas kampus. Di depanku, jalanan panjang membentang luas tanpa kepastian mutlak, seolah menantang ke mana lagi kaki ini akan melangkah setelah pintu peradaban akademis sengaja kupilih untuk ditutup. Angin siang berembus kencang, menerbangkan debu jalanan kota yang hinggap di bajuku, meninggalkan sebuah keheningan maya.

Apakah masa depan gemilang itu benar-benar hanya berada di balik gerbang megah dengan menuntut angka-angka nominal rupiah yang tinggi? Ataukah, takdir yang sesungguhnya baru saja dimulai di atas aspal panas sedang kupijak ini, di mana ilmu kehidupan sejati diajarkan secara gratis oleh kerasnya perjuangan jalanan? Pertanyaan itu tetap menggantung indah di udara siang, seiring langkah kakiku terus bergerak menjauh, tanpa pernah sekalipun menoleh kembali ke belakang.

 

Bumi Utara, 27.06.26.21.10 

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#jahanam #uang #Nasib #kemanusiaan #birokrasi