RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tradisi sedekah bumi atau nyadran masih menjadi aktivitas sakral setiap desa. Bentuknya beragam, dari tasyakuran hingga menggelar salah satu kesenian seperti tayub sampai wayang.
Tradisi ini erat kaitannya dengan sejarah desa dan leluhur. Adat itu tak hanya sebatas mengingat asal mula desa ada, tapi juga media silaturrahmi antarwarga. Penyebutan setiap desa pun berbeda-beda.
Baca Juga: Dua Warga Jerman Sambangi Soesilo Toer, Napak Tilas Penggalangan Dana Masa Lalu
Misalnya Desa Kalangan, Kecamatan Margomulyo, menyebut sedekah bumi atau nyadran dengan kata Gemblang. Bahasa yang disebut sebagai tren masyarakat Kota Ledre ini.
Kepala Desa Kalangan, Kecamatan Margomulyo Kasmani mengungkapkan, desanya masih memegang teguh adat yang sudah lama ada itu. Meski ada sedikit perbedaan dari sebelumnya, tak lagi dengan pagelaran tertentu seperti tayub.
Baca Juga: Bulog Bojonegoro Targetkan Serap 81 Ribu Ton Beras dan 10 Ribu Ton Jagung
Menurutnya, tradisi itu kini difokuskan dalam bentuk anjangsana tasyakuran di tiga dusun setempat.
"Ini adat tiga dusun di Kalangan. Anjangsana tasyakuran bersih dusun atau nyadranan. Kalau tren bahasa Bojonegoro di sini Gemblang," katanya.
Dia melanjutkan, tiga dusun itu meliputi Dusun Kalangan, Bandung, dan Suryo. Dilakukan tiga hari berturut-turut sesuai hari ditentukan. Jumat Kliwon untuk Dusun Kalangan. "Jumat Kliwon di Dusun Kalangan tempatnya di di Balai Desa Kalangan," imbuh dia. (yna/msu)
Editor : Hakam Alghivari