Oleh: Em. Syuhada'
Guru di SDN Cangkring Bluluk, Alumni PP. Roudlotun Nasyiin Mojokerto
KIAI Hamid pernah berkata, “Haji itu panggilan. Tapi kadang, yang berangkat badannya, yang memanggil nafsunya, tapi yang nyangkut malah pikirannya.”
Saat itu, orang-orang di kampung mengira Kiai Hamid sedang melucu seperti kebiasaannya. Tapi nyatanya tidak. Kiai Hamid sedang menyindir perilaku orang-orang yang ingin melaksanakan haji. Rela mengantri puluhan tahun. Sampai akhirnya Lek Kanif, seorang tengkulak gabah paruh baya yang terkenal kikir dan agamis administratif di kampung, alias Islam KTP, akan berangkat ke Tanah Suci tahun ini.
Lek Kanif naik haji melalui jalur khusus tanpa mengantri setelah menjual dua petak sawah terbaiknya di pojok kampung. Bukan karena rindu pada Baitullah, melainkan gerah karena dipanggil "Lek" terus-menerus. Dia mendambakan gelar "Haji" itu melekat di depan namanya, sepadan dengan statusnya sebagai juragan gabah yang sukses menekan harga di tingkat petani. Seperti Haji Awaludin, tuan tanah kampung sebelah yang telah berangkat haji duluan.
Namun, baru sehari di Mekkah, tepat setelah melakukan tawaf, sepasang mata Lek Kanif mendadak kosong. Ia tidak pingsan. Tapi tiba-tiba saja melepas kain ihramnya, melempar peci putihnya ke lantai, lalu berjalan berputar-putar di lobi hotel mewah berlantai marmer dengan mulut meracau. Bulek Murni, istrinya yang mendampingi, langsung pucat sewaktu Lek Kanif mulai berteriak-teriak histeris di depan rombongan jemaah lain.
“Gabahku kehujanan! Gabahku kehujanan! Gusti Allah itu aslinya tengkulak gabah atau bagaimana sih, kok pintar sekali menimbang dosa?!” teriak Lek Kanif, suaranya menggema menabrak dinding lobi.
Beberapa mutawif mencoba menenangkannya, tetapi Lek Kanif justru mencengkeram kerah baju salah satu jemaah yang sedang sibuk berswafoto, “Sampeyan rindu Gusti Allah atau rindu status sosial, hah?!” cecar Lek Kanif dengan mata melotot.
“Manusia jauh-jauh ke sini, bayar puluhan juta, cuma biar dapat gelar 'Haji'. Biar apa? Biar kalau menipu orang di pasar, timbangannya dianggap barokah? Begitu? Hebat! Gusti Allah disogok pakai tiket pesawat!”
“Astagfirullah, istighfar, Pak. Ingat, ini Tanah Suci. Jangan omong sembarangan,” bisik Bulek Murni panik, mencoba menarik tangan suaminya sambil menahan malu setengah mati.
Baca Juga: Lembar Budaya: Kopi dan Roti Penuh Kenangan
Lek Kanif malah tertawa terbahak-bahak. Ia menunjuk ke arah jendela besar yang menampilkan kemegahan menara jam di luar hotel, “Kita di sini mutar-mutar mengelilingi Ka’bah, tapi di rumah kelakuannya mutar-mutar mengakali tetangga! Badan menangis-nangis di Raudah minta ampun, tapi otak memikirkan caranya balik modal agar tambah kaya raya! Kita menumpuk dosa di kampung, lalu dibawa ke sini, berharap dosanya luntur disiram air zam-zam. Kok segampang itu? Apakah Gusti Allah cuma dianggap seperti tukang penatu?”
Lek Kanif mendongak, menatap langit-langit lobi hotel dengan air mata yang mulai meleleh. Bulek Murni hanya bisa menangis sesenggukan di lantai, memeluk suaminya yang biasanya necis dan hobi menghitung untung-rugi itu, yang kini tiba-tiba menjadi gila.
Sepanjang sisa hari di Mekkah hingga pesawat mendarat kembali di Juanda, Lek Kanif tak pernah lagi berbicara normal. Ia hanya tertawa, menangis, dan sesekali memaki-maki pada orang yang dijumpainya.
*
Kampung gempar. Sebuah spanduk kain bertuliskan "Selamat Datang Bapak Haji Hanif” yang telanjur dipasang di depan rumah, mendadak terasa satir. Orang-orang yang datang untuk meminta berkah doa dan air zam-zam justru disuguhi pemandangan aneh: Lek Kanif duduk di atas tumpukan karung gabah, memakai jubah haji tapi kepalanya diikat kain sarung, sambil sibuk menyuapi ayam-ayam tetangga dengan kurma premium nabi.
Bulek Murni hanya bisa menangis di sudut ruang tamu, bingung menghadapi gunjingan tetangga. Namun, kegilaan Lek Kanif tiba-tiba saja mengambil belokan yang aneh. Suatu sore, Kang Pur, seorang petani miskin yang sering diakali Lek Kanif saat menimbang padi, datang menjenguk. Lek Kanif tiba-tiba menghampirinya, menatap mata Kang Pur dalam-dalam, lalu merogoh kantong jubahnya. Ia menyerahkan segepok uang tunai belasan juta rupiah.
“Ini kembalianmu yang kemarin malam. Timbanganku terlalu banyak miring. Gusti Allah tidak suka kalau aku jadi maling,” begitu kata Lek Kanif pada Kang Pur, dengan senyum paling tulus yang belum pernah ada sebelumnya.
Kang Pur gemetar. Uang itu persis berjumlah kerugian yang dialaminya selama lima tahun terakhir akibat kecurangan Lek Kanif. Bagaimana si Gila ini bisa tahu jumlahnya secara persis?
Sejak hari itu, kegilaan Lek Kanif bergeser status. Di mata orang kampung, ia bukan lagi orang gila, melainkan manusia setengah wali. Orang jadzab, yang akalnya sengaja dihilangkan oleh Gusti Allah agar bisa melihat hal-hal gaib.
Setiap hari rumahnya penuh manusia dari segala penjuru. Orang-orang mengantre meminta nomor togel, penglaris, hingga jodoh. Bahkan tak sedikit yang meminta agar bisa cepat naik pangkat menjadi bupati atau gubernur. Anehnya, setiap kali ada orang yang berniat buruk datang, Lek Kanif akan langsung melempar mereka dengan kotoran ayam sambil berteriak, “Bau busuk! Kepalanya penuh kotoran!” Tentu saja orang-orang yang datang menjadi was-was. Mereka kuatir kepalanya akan penuh dengan tai.
Tiga bulan berlalu. Bulek Murni mulai terbiasa dengan keadaan itu, bahkan mulai menikmati status baru suaminya sebagai "dukun spiritual" kampung, walau hatinya tetap nelangsa melihat suaminya tak kunjung salat lima waktu dengan benar. Sampai pada suatu malam, atmosfer rumah berubah mencekam. Sejak magrib, Lek Kanif tidak lagi tertawa atau melempar kotoran ayam. Ia justru duduk bersila di tengah ruang tamu, menghadap ke arah kiblat. Tubuhnya tegak, tatapannya tajam menembus dinding, seperti orang yang sedang menghentikan waktu.
Malam semakin larut. Angin berembus sangat kencang, membuat daun-daun jendela kayu di rumah Lek Kanif berderit keras. Suasana kampung mendadak sunyi senyap. Bulek Murni yang sedang merapikan mukena di kamar merasa bulu kuduknya berdiri. Ia keluar ke ruang tamu dan mendapati suaminya sedang menangis sesenggukan. Air matanya mengalir deras.
“Pak, sampeyan kenapa?” tanya Bulek Murni dengan suara bergetar.
Lek Kanif menoleh pelan. Tatapannya mendadak sangat waras, bahkan sangat jernih, mengikis semua kesan gila yang melekat selama tiga bulan terakhir.
“Murni,” suara Lek Kanif berat dan berwibawa, "Jemputanku sudah datang. Ka’bah yang kubawa di dalam kepalaku sudah harus dikembalikan.”
Jantung Bulek Murni berdegup kencang. Pikiran buruk langsung menyergapnya.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berat di halaman rumah, disusul ketukan keras di pintu depan. Ketukan itu begitu berbobot, gema suaranya seolah merayap di lantai kayu. Bulek Murni ketakutan setengah mati. Siapa yang bertamu jam dua malam dalam kondisi seperti ini?
“Buka, Murni. Kasihan, sudah lama mencari aku,” perintah Lek Kanif tenang.
Dengan tangan gemetar dan lutut yang lemas, Bulek Murni berjalan menuju pintu. Ketukan kembali terdengar, kali ini lebih mendesak. Bulek Murni memegang grendel pintu, membaca ayat kursi dalam hati, lalu menarik daun pintu perlahan.
Di balik pintu, di bawah temaram lampu teras, tidak ada siapa-siapa. Hanya angin malam yang dingin langsung menerobos masuk, menyapu wajah Bulek Murni yang ketakutan. Halaman rumah sepi, hanya ada keheningan malam yang pekat. Namun, aroma minyak wangi hajar aswad yang sangat kuat dan harum mendadak merebak, memenuhi seluruh ruangan, mengalahkan bau apek karung gabah dan kotoran ayam yang biasanya menyengat. Bulek Murni menoleh ke belakang dengan cepat, jantungnya berdegup liar.
Di ruang tamu, Lek Kanif sudah tidak lagi bersila. Ia kini bersujud menghadap kiblat. Tubuhnya diam tak bergerak. Bulek Murni mendekat dengan tangis yang mulai pecah. Ketika tangannya menyentuh pundak Lek Kanif, tubuh suaminya itu terasa dingin. Bulek Murni menangis histeris.
Di atas meja, tergeletak buku catatan lama milik Lek Kanif. Buku yang dulunya berisi catatan utang petani dan trik memiringkan timbangan gabah, kini dipenuhi coretan nama-nama penduduk desa beserta nominal rupiah di sampingnya. Di halaman paling akhir, tertulis pesan dengan huruf kapital yang bergetar: "SEMUA SUDAH LUNAS. TIMBANGANKU SUDAH LURUS."
Keesokan harinya, tidak ada satu pun warga yang merasa kehilangan "orang gila". Mereka justru bersaksi bahwa semalam, mereka semua memimpikan hal yang sama: Lek Kanif datang mengenakan kain ihram yang sangat putih, menjabat tangan mereka satu per satu, meminta maaf, lalu berjalan masuk ke dalam sebuah bangunan kotak besar hitam yang bersinar di tengah-tengah pasar desa. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko