Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Lembar Budaya: Anomali

Bhagas Dani Purwoko • Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Karya:
Choirul Anam

 

PAGI itu langit Bojonegoro belum benar-benar terang ketika Arif menstarter motor dinasnya. Embun masih menempel di daun singkong pinggir jalan. Udara desa terasa dingin, bercampur bau asap kayu bakar dari dapur-dapur warga yang mulai hidup.

Di tas hitam lusuh yang menggantung di pundaknya ada setumpuk formulir DTSEN, power bank, botol minum, dan sebungkus nasi jagung pemberian istrinya.

“Jangan lupa makan,” pesan istrinya sebelum ia berangkat.

Arif hanya mengangguk.

Sudah hampir dua minggu terakhir ia bersama puluhan ASN lain diterjunkan ke desa-desa untuk melakukan ground check data anomali DTSEN. Biasanya ia bekerja nyaman di ruangan ber-AC Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro. Mengetik laporan. Rapat. Menjawab surat.

Kini ia harus keluar masuk gang sempit, melewati jalan makadam, bahkan kadang menyeberangi pematang sawah hanya demi memastikan satu data: apakah keluarga itu benar-benar miskin atau tidak.

Terdengar sederhana. Tapi kenyataannya jauh lebih rumit.

Motor Arif berhenti di depan balai desa Kedungrejo. Sudah ada beberapa ASN dari OPD lain berkumpul. Ada Bu Ratna dari Dinas Pendidikan, Pak Yudi dari PUPR, dan seorang bidan puskesmas bernama Lela dari Dinas Kesehatan.

“Kita kebagian RT 4 hari ini,” kata Bu Ratna sambil membuka map.

Pak Yudi menghela napas panjang.

“Semoga jalannya nggak kayak kemarin. Shock motorku rasanya mau copot.”

Mereka tertawa kecil.

Namun tawa itu segera hilang ketika Kepala Dusun datang membawa daftar rumah yang harus diverifikasi.

“Yang paling susah rumah nomor 27,” katanya pelan.

“Kenapa?” tanya Arif.

“Datanya aneh.”

“Aneh gimana?”

“Kategorinya miskin ekstrem. Tapi katanya punya sawah.”

Arif mengangguk pelan.

Ia mulai paham. Lagi-lagi anomali.

*

Rumah nomor 27 berada di ujung desa. Mereka harus melewati jalan tanah sempit di antara sawah yang mulai menguning.

Di depan rumah itu, seekor kambing kurus terikat di pohon jambu. Dinding rumahnya anyaman bambu tua. Sebagian berlubang. Lantainya masih tanah. Atapnya campuran genteng dan seng berkarat.

Kalau melihat fisiknya, rumah itu memang tampak miskin.

Seorang perempuan tua keluar sambil mengelap tangan di kain jarik.

“Cari siapa, Nak?”

“Ini rumah Pak Karmo?” tanya Arif.

“Iya.”

“Kami dari kabupaten, Bu. Mau verifikasi data.”

Perempuan itu mempersilakan masuk.

Di dalam rumah terasa gelap dan lembap. Aroma kayu bakar bercampur bau obat gosok memenuhi ruangan.

Pak Karmo sedang duduk di dipan bambu. Kakinya tampak bengkak.

“Panjenengan punya sawah?” tanya Arif hati-hati sambil membuka aplikasi di ponsel.

Pak Karmo tertawa kecil. Tawa yang aneh. Seperti orang yang terlalu sering kalah oleh hidup.

“Punya,” jawabnya.

Bu Ratna langsung saling pandang dengan Arif.

“Nah, itu. Datanya jadi anomali,” bisik Bu Ratna.

“Tapi sawahnya cuma seperempat bau,” lanjut Pak Karmo. “Itu pun tadah hujan. Kalau kemarau ya nggak panen.”

Arif mengetik sesuatu.

“Penghasilan rata-rata berapa, Pak?”

“Kalau lagi bagus ya satu juta sebulan. Kadang nggak ada sama sekali.”

Lela memeriksa kondisi rumah sambil mencatat sanitasi dan sumber air.

“WC-nya di mana, Bu?”

“Numpang belakang rumah saudara.”

Pak Yudi sibuk memotret kondisi bangunan.

Sementara Arif diam.

Matanya memandangi lantai tanah yang retak-retak. Sudut rumah yang bocor. Kompor kayu di dapur.

Tiba-tiba ia merasa aneh.

Di kantor, kemiskinan hanyalah angka statistik. Persentase. Grafik. Warna merah dan hijau di layar monitor.

Tapi di rumah nomor 27, kemiskinan punya bau. Punya suara batuk. Punya wajah lelah.

*

Perjalanan berikutnya justru lebih membingungkan.

Rumah nomor 31 tercatat miskin berat. Tetapi ketika mereka datang, rumahnya bertingkat dua. Ada mobil pikap terparkir di depan.

Seorang lelaki muda menyambut mereka.

“Oh iya, saya masih masuk data bantuan,” katanya santai.

Arif menahan napas.

“Kerjanya apa, Mas?”

“Jual beli tembakau.”

“Penghasilan?”

“Ya lumayan.”

“Kenapa masih masuk data miskin?”

Lelaki itu tertawa kecil.

“Lha saya juga nggak tahu.”

Pak Yudi menggeleng pelan.

“Ini yang bikin kacau.”

Arif mencatat perubahan status.

Namun dalam hati ia mulai sadar, persoalan data ternyata bukan hanya soal salah input. Ada banyak hal bercampur di dalamnya: ketidaktahuan, manipulasi, perubahan kondisi ekonomi yang cepat, hingga budaya masyarakat yang kadang tidak jujur.

Siang harinya mereka istirahat di warung kecil pinggir jalan.

Bu Ratna menyeruput es teh sambil mengipas wajah.

“Capek juga ya.”

“Lebih capek nginput nanti malam,” sahut Pak Yudi.

Lela tertawa.

“Tapi aku jadi ngerti kenapa data itu penting.”

Arif diam saja.

Ia teringat ayahnya.

*

Dulu ayahnya juga orang miskin. Buruh tani yang setiap hari pulang dengan tubuh penuh lumpur. Pernah suatu waktu keluarganya tidak mendapat bantuan karena dianggap “mampu”. Alasannya sederhana: rumah mereka berdinding tembok.

Padahal tembok itu hasil bantuan gotong royong tetangga.

Sejak saat itu ayahnya sering berkata, “Orang miskin kadang kalah sama data.”

Kalimat itu tiba-tiba terngiang lagi di kepala Arif.

Menjelang sore mereka mendatangi rumah terakhir.

Seorang anak perempuan sedang duduk di teras sambil memegang buku lusuh.

Namanya Nisa. Umurnya empat belas tahun.

Menurut data, ia tercatat putus sekolah.

“Sekolah nggak, Dik?” tanya Bu Ratna lembut.

Nisa menunduk.

“Berhenti.”

“Kenapa?”

“Bapak sakit.”

Ibunya keluar membawa kursi plastik.

“Dia sebenarnya pintar,” katanya lirih. “Dulu ranking terus.”

“Sekarang bantu jual gorengan.”

Arif melihat mata anak itu.

Ada sesuatu yang membuat dadanya sesak.

“Ada keinginan sekolah lagi?” tanya Bu Ratna.

Nisa mengangguk pelan.

“Iya.”

Sunyi beberapa detik.

Di kejauhan terdengar suara azan asar dari mushala desa.

Angin sore meniup daun-daun pisang di samping rumah.

Entah kenapa, Arif merasa data di layar ponselnya tiba-tiba menjadi sangat kecil dibanding kenyataan di depannya.

Satu baris data hanya tertulis: perempuan, 14 tahun, tidak sekolah.

Padahal di balik itu ada mimpi yang tertunda. Ada ayah sakit. Ada dapur yang harus tetap mengepul.

*

Malamnya Arif pulang dengan tubuh lelah.

Istrinya sudah tidur bersama anak mereka.

Ia membuka laptop di meja makan.

Puluhan data harus diinput malam itu juga.

Status rumah. Jenis lantai. Kepemilikan jamban. Pendidikan. Penghasilan.

Jarinya bergerak cepat di keyboard.

Tetapi pikirannya melayang ke rumah nomor 27.

Juga ke mata Nisa.

Ia tiba-tiba sadar bahwa pekerjaan mereka sebenarnya bukan sekadar memperbaiki data.

Mereka sedang menentukan siapa yang akan dibantu negara.

Siapa yang berhak mendapat perhatian.

Dan siapa yang mungkin kembali dilupakan.

Ponselnya berbunyi.

Pesan dari grup ASN Ground Check.

“Besok semua tim kumpul jam 7 pagi. Ada tambahan anomali baru.”

Arif menghela napas panjang.

Data memang seperti jalan panjang yang tidak pernah selesai.

Selalu ada perubahan. Selalu ada ketidaksesuaian.

Karena hidup manusia memang tidak pernah benar-benar bisa dimasukkan ke dalam kotak-kotak statistik.

Ia menutup laptop sebentar lalu keluar rumah.

Langit malam Bojonegoro tampak jernih. Bintang bertaburan di atas sawah yang gelap.

Di kejauhan terdengar suara kereta melintas pelan.

Arif duduk di teras.

Ia membayangkan ribuan rumah yang datanya sedang mereka periksa satu per satu. Rumah-rumah dengan cerita berbeda. Dengan luka berbeda.

Ada yang miskin tapi malu mengaku miskin.

Ada yang mampu tapi tetap ingin bantuan.

Ada yang hidup pas-pasan namun tak pernah tercatat di sistem.

Dan di antara semua itu, ada petugas-petugas lapangan yang setiap hari mencoba menyusun kepingan kenyataan agar menjadi kebijakan yang adil.

Mungkin beginilah rasanya menjadi bagian kecil dari sesuatu yang besar.

Sesuatu bernama kesejahteraan.

Yang ternyata tidak cukup dibangun dengan anggaran dan program.

Tetapi juga dengan keberanian melihat kenyataan apa adanya.

*

Keesokan paginya Arif kembali berangkat.

Langit masih gelap.

Kabut tipis turun di sepanjang jalan desa.

Motor tuanya melaju pelan membelah pagi.

Di tas hitam lusuhnya masih ada formulir kosong yang harus diisi lagi.

Masih ada rumah-rumah lain yang harus dikunjungi.

Masih ada data-data yang belum selesai diverifikasi.

Namun kali ini langkahnya terasa berbeda.

Ia tidak lagi melihat warga sebagai angka statistik.

Ia mulai melihat mereka sebagai manusia.

Dan mungkin, dari situlah semua perubahan memang seharusnya dimulai. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kemiskinan #cerpen #asn #anomali #DTSEN