Jumlah eceng gondok yang banyak, terkadang menghambat aliran air sejumlah sungai di Lamongan. Namun di tangan mahasiswa fakultas teknik Unisla, eceng gondok disulap menjadi sabun herbal. Karya tersebut berhasil meraih medali silver dalam ajang European Exhibition ff Creativity and Innovation (Euroinvent) di Rumania, Kamis (11/5) hingga Sabtu (13/5) lalu. Lomba tersebut diadakan secara online.
AHMAD ASIP ALAFI, Radar Lamongan
TIGA mahasiswi dan satu mahasiswa terlihat sibuk di salah satu ruang dosen fakultas teknik Unisla, kemarin (21/5). Kurnia Putri Gita Ikromi, Bagas Adi Rency Saputra, Elis Fatmawati, dan Ruly Nur Fadhilah menunjukkan sabun herbal berbahan eceng gondok. Inovasi tersebut dinamai Soap With Hyachint Water Plant Formula (SIHY PLAF). Sabun herbal dengan formula tanaman eceng gondok ini berhasil menyabet medali silver di ajang Euroinvent Romania beberapa waktu lalu.
Awalnya mahasiswa fakultas teknik ini resah dengan eceng gondong, yang menjadi penghambat aliran air di sejumlah sungai. Mereka selanjutnya mencari referensi dan menemukan fakta, yakni eceng gondok memiliki kandungan yang dapat mengatasi iritasi.
Ketua tim inovasi SIHY PLAF di fakultas teknik Unisla, Kurnia Putri Gita Ikromi menjelaskan, alasan memilih produk sabun karena setiap orang pasti setiap hari membutuhkan sabun. Berbeda dengan lotion yang hanya sebagian orang menggunakan.
‘’Kurang lebih satu bulan membuat. Awalnya ide dulu, kemudian cari referensi,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (21/5).
Gita mengatakan, tidak semua bagian eceng gondok terpakai. Timnya hanya menggunakan batang dan daun untuk sabun. Hal yang perlu diperhatikan yakni perbandingan komposisi yang tepat antara eceng gondok, air, dan saponin (senyawa kimia yang berlimpah dalam berbagai spesies tumbuhan).
‘’Manfaat ini bisa melembabkan kulit, mengatasi iritasi, mencerahkan, dan menyehatkan kulit,’’ imbuhnya.
Empat anggota tim inovasi SIHY PLAF di fakultas teknik Unisla ini tidak seangkatan. Sehingga, dalam proses pembuatannya terkadang terkendala waktu kuliah. Anggota tim harus mengambil hari libur untuk berdiskusi terkait produk tersebut. Namun dari anggota tim ini saling melengkapi dan sesuai kompetensi. Sebelumnya dalam lomba mengirim abstrak dulu, kemudian ketika diterima baru dilanjutkan.
‘’Awalnya sedikit kurang percaya diri, karena baru pertama, apalagi internasional bukan nasional lagi, minder dulu,’’ ungkap Gita.
Pembina tim di fakultas teknik Unisla, Muhammad, Hasan Wahyudi menuturkan, pihaknya bakal melakukan uji klinis lebih lanjut. Sebab, diakuinya, ada target untuk bisa dikomersialkan dan menjadi manfaat bagi Unisla.
‘’Biar masyarakat juga aman menggunakannya,’’ ucapnya.
Wakil Dekan Fakultas Teknik Unisla, Sugeng Dwi Hartantyo menuturkan, pihaknya mendukung penuh seluruh kegiatan kemahasiswaan di fakultas teknik. ‘’Potensi-potensi mahasiswa ini akan kami eksplore menjadi sebuah karya terbaik anak bangsa, untuk mengharumkan nama almamater Unisla, Kabupaten Lamongan, dan juga Indonesia di kancah Internasional,’’ tuturnya.
Dekan Fakultas Teknik Unisla, Arif Budi Laksono mengatakan, penghargaan ini bertepatan Hari Jadi Lamongan. Sehingga menjadi kado pada kota tercinta, yang bisa mengharumkan nama Lamongan, khususnya Unisla di kancah nasional maupun internasional.
‘’Kami harap ada tim lain yang bisa mengikuti lagi dan berprestasi,’’ harapnya. (*/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto