Bangunan SMPN 1 Blora diperkirakan sudah ada sejak 1930-an. Bekas sekolah peruntukan priyayi dan anak-anak Eropa. Beberapa tokoh lahir dari dari sekolah dulu pernah dikelola oleh pemerintah hindia Belanda ini.
LUKMAN HAKIM, Radar Blora
SAAT memasuki pintu gerbang SMPN 1 Blora, denyut suasana masa lampau begitu terasa. Sekolah ini ternyata menyimpan sejarah masa lampau. Masih terasa arsitektur Eropa lengkap dengan pintu dan jendela yang khas.
Bangunan terletak di Jalan dr. Sutomo ini tampak bangunan berbentuk limasan memanjang. Atap tinggi. Plafon atap terbuat dari kayu. “Diperkirakan bangunan ini sudah ada sejak 1930-an (sebelum Kemerdekaan). Namun SMP selalu memperingati hari kelahiran setiap 1 April 1946,” tutur Kepala SMPN 1 Rofiq saat ditemui.
Jika merujuk pendirian secara administrasi, kali pertama SMPN 1 Blora berdiri pada 1946. Namun, usia bangunan diperkirakan pada 1930-an. Bangunan dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda saat itu.
Hal itu cukup beralasan, jika merujuk koran Belanda terbitan De Indische courant pada 1931, sudah terdapat aktivitas pendidikan di Blora perkotaan. Berdasar dokumen tersebut menunjukkan terhitung 2 Februari 1931 dijabat sebagai kepala sekolah transisi di Padangpandjang H. Vos, sekarang menjadi kepala sekolah di sekolah Eropa di Blora.
Rofiq menuturkan, berdasar cerita orang-orang tua dahulu gedung ini merupakan sekolah H.I.S digunakan pendidikan bagi warga priyayi pribumi atau orang yang mempunyai jabatan saat pemerintahan Hindia Belanda. “Saat itu menyebutnya sebagai HIS,” tuturnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro, bangunan kelas menganut sistem dua pintu di bagian sisi kanan dan kiri. Juga, terdapat pintu sambungan antarkelas. Bentuk jendela ganda dengan ventilasi udara ukuran kecil pada sisi dalam. Juga masih tersisa sebuah aula dengan tiang kayu jati masih kokoh.
“Tapi secara umum strukturnya masih tetap ada dua bangunan. Aula juga masih tetap sama. Hanya kami naikkan sedikit sekitar 120 sentimeter,” paparnya.
Bangunan tersebut sudah pernah direhab. Namun tidak mengubah bentuk aslinya seperti tembok hanya ditambal keramik. (*/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto