Selain peminatnya kalau orang tua, Sutrisno melihat saat ini di masa regenerasi seniman ukir terbatas. Jumlahnya tak sebanyak dulu, apalagi dari kalangan anak muda. Menurutnya, hal tersebut merupakan fenomena wajar.
“Justru nantinya kemungkinan akan booming lagi. Ketika permintaan kerajinan kayu jati naik, tapi seniman ukirnya terbatas. Jadi karyanya benar-benar dihargai,” tutur Sutrisno.
Karena sudah menekuni usaha selama 20 tahun, Sutrisno melihat siklus dunia usaha seperti roda berputar. Tak heran dulu di era 1980-an hingga 90-an, saking banyaknya seniman ukir dari Provinsi Jawa Tengah seperti Jepara, sehingga mereka pilih hijrah di kota-kota lain salah satunya Bojonegoro.
“Karena mungkin di kotanya sendiri persaingan makin ketat, jadi lebih baik hijrah saja,” katanya.
Terpisah, salah satu seniman ukir yang bekerja di tempat Sutrisno, Wiji Sejati mengatakan kerja jadi seniman ukir sejak 2002. Pria berusia 40 itu sebelumnya belajar dengan orang asli Jepara. Dia seniman ukir spesialis relief perjamuan suci. Setidaknya, Wiji mampu membuat lima relief perjamuan suci dalam setahun.
Dulu sebelum era digital menggeliat, Wiji mengungkapkan, dapat gambar-gambar perjamuan suci dari buku. Lalu difotokopi sekaligus diperbesar ukuran gambarnya. Kemudian gambar dibuat sketsanya di atas kayu, selanjutnya diukir. “Kalau sekarang gambar-gambar perjamuan suci bisa lebih mudah didapat dari Google, lalu di-print,” terangnya. (bgs/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto