Oleh: M. Suaeb, Pemimpin Redaksi
PEMERINTAH Kabupaten Bojonegoro telah melaunching logo Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349, dengan tema Berdaya Saing, Bertransformasi Menuju Bojonegoro Adil dan Makmur.
HJB selama ini menjadi momentum merefleksikan jejak pembangunan Kabupaten Bojonegoro, sebagai bahan evaluasi untuk perencanaan pembangunan tahun berikutnya.
Pemkab Bojonegoro menetapkan HJB setiap 20 Oktober. Tanggalnya, mirip hari lahir salah satu partai yang berkuasa pada era orde baru. Tapi, jangan berpikir politis dulu.
Bojonegoro sudah lahir sebelum Indonesia merdeka pada 1945. Sedangkan, parpol berdiri setelah negara ini berdiri pada 17 Agustus 1945.
Yang jadi pertanyaan, sejak kapan HJB dirayakan? Jawaban ini butuh diskusi panjang, butuh data primer dan sekunder, minimal membuka buku, serta catatan dan arsip Pemkab Bojonegoro. Dan tak kalah penting, cerita pelaku sejarah.
Belum lama ini, penulis bertemu dengan pemuda yang sedang menelusuri jejak peradaban Bojonegoro, mulai di era Jipang.
Muhammad Andrea bersama tim, sedang menarasikan hasil penelitianya, menafsir ulang rentetan sejarah Bojonegoro. Mulai dari Jipang, Rajekwesi, kemudian Bojonegoro.
Dalam prasasti Merbong, Jipang ditulis bagian dari wilayah administrasi Kerajaan Singosari, sebelum Mojopahit berdiri. Mengacu prasasti itu, jejak peradaban Jipang sejak tahun 1.300 Masehi.
Prasasti di Kecamatan Ngraho itu, menjadi salah satu data primer, jika Jipang sudah berdiri sejak 1.300 Masehi. Sehingga, peradabannya sudah sekitar tujuh abad, atau 700 tahun silam.
Bagi pembaca yang ingin memahami lebih dalam membaca jejak peradaban Bojonegoro mulai era Jipang, Rajekwesi, hingga Bojonegoro, bisa dibaca bukunya yang tebalnya sekitar 461 lembar itu.
Sebagai bahan diskusi jejak peradaban Bojonegoro, redaksi Radar Bojonegoro menjelang HJB ke- 349, akan mengulas buku karya pemuda asal Kecamatan Sugihwaras itu. Mulai era Jipang, Rajekwesi, hingga Bojonegoro.
Selamat membaca...
Editor : Farhan Reza Ardiansyah