Terjadi 338 Kasus Kebakaran di Bojonegoro, Sejak Januari hingga Agustus 2026

Yana Dwi Kurniya Wati • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 07:40 WIB
MEMBARA: Petugas berjibaku memadamkan api, sejak Januari hingga Agustus tercatat 338 kasus kebakaran. (DEWI SAFITRI/RADAR BOJONEGORO)
MEMBARA: Petugas berjibaku memadamkan api, sejak Januari hingga Agustus tercatat 338 kasus kebakaran. (DEWI SAFITRI/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COMDinas pemadam kebakaran dan penyelamatan (damkarmat) mencatat sebanyak 338 kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga Agustus.

Jumlah tersebut menunjukkan terjadinya lonjakan tajam saat musim kemarau berlangsung. Jika pada Juni tercatat 29 kejadian, melonjak menjadi 125 kejadian pada Juli, dan masih masih tinggi di Agustus dengan 112 kejadian.

Kabid Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Damkarmat Bojonegoro Ahmad Agus Salim mengatakan, peningkatan kasus tidak lepas dari kondisi lingkungan yang semakin kering saat musim kemarau.

"Ketika memasuki musim kemarau, potensi kebakaran memang meningkat. Kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar, terutama apabila ada aktivitas pembakaran yang tidak diawasi," ungkap Agus, kemarin (2/9).

Dia menjelaskan, dari total 338 kejadian tersebut, kebakaran lahan, pekarangan, sampah, jerami, dan rumpun bambu menjadi jenis kejadian yang paling dominan, yakni mencapai 164 kasus.

Baca Juga: 226 Kebakaran di Bojonegoro dalam Tujuh Bulan

Kebakaran lahan hutan juga cukup tinggi dengan 30 kejadian, disusul kebakaran permukiman atau rumah sebanyak 33 kejadian. Selain itu, terdapat 29 kejadian yang melibatkan meteran listrik, kabel, travo maupun gardu listrik.

Sementara berdasarkan faktor penyebab, lanjut Agus, pembakaran sampah menjadi penyumbang terbesar dengan 153 kejadian. Disusul korsleting atau arus pendek listrik sebanyak 67 kejadian, dan kebakaran yang diduga disengaja atau dibakar pihak tertentu sebanyak 59 kejadian. "Pembakaran sampah ini menjadi salah satu yang paling banyak," tegasnya.

Dia melanjutkan, lonjakan kebakaran pada Juli juga berdampak terhadap besarnya nilai kerugian. Pihaknya mencatat, kerugian akibat kebakaran selama Januari hingga Agustus mencapai sekitar Rp14,43 miliar. Namun, kata dia, upaya pemadaman dan penyelamatan yang dilakukan petugas berhasil menyelamatkan aset dengan nilai jauh lebih besar, yakni mencapai sekitar Rp129,98 miliar.

Agus mengingatkan, agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Hal-hal sederhana seperti memastikan api benar-benar padam setelah membakar sesuatu dan tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan dinilai penting untuk mencegah kebakaran meluas.

"Jangan menganggap api kecil tidak berbahaya. Dalam kondisi kemarau, api bisa cepat menjalar. Kalau melihat adanya kebakaran, segera laporkan agar petugas bisa melakukan penanganan secepat mungkin," pungkas dia. (yna/msu)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Damkarmat Bojonegoro Kebakaran bojonegoro Kemarau