RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Krisis air bersih setiap musim kemarau sudah menjadi langganan warga Bojonegoro. Pernah terdengar program menabung air yang digelontorkan Pemkab Bojonegoro di beberapa titik pada akhir 2024, hingga awal 2025. Namun, hingga kemarin (10/8) belum ada kabar kelanjutannya.
Tahun ini kekeringan di wilayah Bojonegoro terus meluas. Seiring kemarau memasuki puncaknya Agustus hingga September mendatang. Hingga kemarin (11/8) terdapat 18 desa di 10 kecamatan mengalami kekeringan. Rerata di wilayah selatan Bojonegoro. Seperti Kecamatan Sumberrejo, Ngraho, hingga Ngasem.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Kecamatan Sumberrejo dan Ngasem menjadi terbanyak desa mengalami kekeringan. Masing-masing ada lima desa di dua kecamatan tersebut kekeringan dan meminta bantuan air bersih.
Kalangan aktivis menilai butuh solusi jangka panjang, karena kondisi ini sudah terjadi setiap tahun. Pengiriman air bersih juga bagian dari solusi, tapi itu jangka pendek.
Baca Juga: Kekeringan Hambat Perluasan Penanaman Tembakau di Bojonegoro
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bojonegoro Heru Wicaksi mengatakan, terdapat 18 desa di 10 kecamatan yang sudah mendapatkan bantuan air bersih. Total 167 tangki air bersih sudah didistribusikan ke desa-desa tersebut.
‘’Jumlah keseluruhan distribusi air bersih sebanyak 167 tangki,” ungkapnya.
Heru menjelaskan, Desa Sumberharjo di Kecamatan Sumberrejo menjadi desa terbanyak mendapatkan bantuan air bersih. Total 21 kali pengiriman dilakukan ke desa tersebut.
Kemudian ada Desa Sumberjokidul, Kecamatan Sukosewu dan Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngraho yang sudah mendapatkan distribusi air besih sebanyak 18 kali.
Terkait puncak kemarau, Heru menjelaskan puncak musim kemarau tahun ini terjadi pada Agustus hingga September mendatang. Sehingga meminta masyarakat untuk melakukan manajemen air bersih selama kemarau panjang tahun ini.
Tentu dengan menghemat air dengan menggunakan air bersih secara efektif untuk kebutuhan utama. Kemudian melindungi kualitas air bagu dan merawat sumber air di sekitar tempat tinggal.
‘’ Manfaatkan bak penampungan untuk mencukupi cadangan air harian,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Giri Foundation Rian Adi Kurniawan persoalan kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim hujan, butuh kolaborasi untuk mencari solusi jangka panjang.
Baca Juga: Sembilan Desa di Bojonegoro Langganan Kekeringan: Tersebar di Enam Kecamatan
Karena krisis air sudah terjadi setiap tahun. ‘’Krisis air setiap musim kemarau, itu sudah langganan setiap tahun. Butuh solusi jangka panjang,’’ katanya terpisah. (irv/msu)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah