RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pemkab Bojonegoro kembali menegaskan komitmennya melestarikan budaya melalui gelaran Ruwatan Murwakala di Kayangan Api, kemarin (16/6).
Namun, upaya menjaga warisan leluhur itu tidak boleh berhenti pada ritual dan pagelaran wayang kulit. Langkah nyata menjaga situs budaya dan mewariskan nilainya kepada generasi muda menjadi pekerjaan yang tak kalah penting.
Menurut Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, Ruwatan Murwakala merupakan tradisi yang sarat nilai spiritual. Tradisi tersebut mengajarkan manusia untuk senantiasa bersyukur serta menjaga harmoni dengan alam dan lingkungan sekitar.
“Ruwatan murwakala ini merupakan tradisi yang sarat akan nilai spiritual mendalam. Berupa ucapan syukur dan penghormatan terhadap alam dan Sang Maha Pencipta,” ujarnya.
Karena itu, lanjut Bupati, Pemkab Bojonegoro berkomitmen terus nguri-uri budaya dan kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat.
Baca Juga: Mengenal Ruwatan Murwakala. Ritual Suci Diri dan Buang Marabahaya Khas Jawa
“Dari Pemkab berkomitmen untuk nguri-nguri budaya dan kearifan lokal di Bojonegoro,” tegasnya.
Melalui ritual dan pagelaran wayang kulit tersebut, masyarakat diajak membersihkan diri dari berbagai hal negatif sekaligus memanjatkan doa untuk kehidupan yang lebih baik, tentram, dan sejahtera.
“Kami dari Pemkab konsisten melestarikan budaya ini. Terlebih Kayangan Api ini menjadi kebanggaan kita. Dan, sedang berproses menuju UNESCO Geopark,” tambahnya.
Menurut orang nomor satu di Pemkab Bojonegoro tersebut, tempat sakral itu merupakan peninggalan leluhur yang harus dilestarikan dan terus diuri-uri. Agar generasi ke depan bisa melihat, menikmati, dan terus melestarikan budaya di Bojonegoro.
“Mari bersama terus menjaga warisan budaya agar senantiasa diberi keselamatan, keberkahan, dan jauh dari bala atau sengkolo,” pungkasnya. (ewi/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko