Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Ekonomi Bojonegoro Tetap Tumbuh di Awal 2026, Pertanian dan Konsumsi Masyarakat Jadi Penopang

M. Nurkhozim • Senin, 8 Juni 2026 | 15:58 WIB
TUMBUH : Wabup Nurul Azizah menunjukkan data ekonomi Bojonegoro 2026 yang tumbuh.
TUMBUH : Wabup Nurul Azizah menunjukkan data ekonomi Bojonegoro 2026 yang tumbuh.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro optimistis terhadap kinerja perekonomian daerah pada awal tahun 2026. Meski sektor migas mengalami penurunan produksi, ekonomi Bojonegoro tetap mampu mencatatkan pertumbuhan positif yang ditopang oleh sektor pertanian, konsumsi masyarakat, dan meningkatnya aktivitas pelayanan publik.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro Nurul Azizah bersama Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bojonegoro Syawaluddin Siregar saat pemaparan rilis Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Triwulan I Tahun 2026 di ruang kerja Wabup, kemarin (8/6).

Berdasarkan data BPS, ekonomi Bojonegoro pada Triwulan I 2026 tumbuh 0,02 persen secara tahunan (year on year/y-on-y) dan tumbuh 2,52 persen dibanding triwulan sebelumnya (quarter to quarter/q-to-q). Nilai PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp28,44 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan sebesar Rp17,09 triliun.

Wabup Nurul mengatakan capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi Bojonegoro di tengah berbagai tantangan, terutama fluktuasi sektor migas yang selama ini masih menjadi kontributor terbesar perekonomian daerah.

"Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Bojonegoro semakin beragam. Tidak hanya bergantung pada migas, tetapi juga ditopang sektor pertanian, perdagangan, UMKM, serta konsumsi masyarakat yang terus bergerak," ujarnya.

Nurul menambahkan, capaian pertumbuhan positif pada triwulan pertama 2026 menjadi kabar baik karena Bojonegoro pernah mengalami perlambatan bahkan pertumbuhan negatif dalam beberapa periode sebelumnya.

"Kalau melihat tren beberapa tahun terakhir, ekonomi Bojonegoro sempat mengalami kontraksi hingga minus 4,65 persen secara triwulanan pada Triwulan IV 2023 dan minus 3,72 persen secara tahunan pada Triwulan I 2024. Karena itu, pertumbuhan positif 0,02 persen secara tahunan dan 2,52 persen secara triwulanan pada awal 2026 menunjukkan bahwa ekonomi Bojonegoro tetap memiliki daya tahan yang baik di tengah dinamika sektor migas," jelasnya.

GRAFIK : Menunjukan pertumbuhan ekonomi Bojonegoro 2026 yang lebih bagus dibanding daerah lain.
GRAFIK : Menunjukan pertumbuhan ekonomi Bojonegoro 2026 yang lebih bagus dibanding daerah lain.

Menurut Nurul, capaian tersebut menjadi sinyal bahwa sektor nonmigas mulai memberikan kontribusi yang semakin kuat terhadap perekonomian daerah.

"Ke depan kami akan terus memperkuat sektor-sektor produktif yang langsung bersentuhan dengan masyarakat agar pertumbuhan ekonomi semakin berkualitas dan manfaatnya bisa dirasakan hingga tingkat desa dan keluarga," tambahnya.

Data BPS menunjukkan sektor pertambangan mengalami penurunan pertumbuhan dengan kontribusi minus 8,78 persen. Namun pada saat yang sama, sektor pertanian menjadi motor pertumbuhan tertinggi secara tahunan dengan pertumbuhan 11,38 persen, didorong musim panen padi yang berlangsung pada awal tahun.

Kepala BPS Bojonegoro Syawaluddin Siregar menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi triwulan pertama dipengaruhi pola musiman pertanian dan dinamika lifting migas.

"Secara q-to-q, pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor pertanian karena memasuki masa panen. Sementara sektor pertambangan mengalami penurunan akibat turunnya lifting migas," jelasnya.

Selain pertanian, sejumlah sektor jasa juga menunjukkan perkembangan positif. Secara tahunan, pertumbuhan tertinggi terjadi pada kategori jasa lainnya sebesar 14,77 persen yang didorong meningkatnya aktivitas masyarakat. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga tumbuh signifikan seiring pelaksanaan berbagai program pemerintah.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi Bojonegoro dengan kontribusi 46,22 persen terhadap PDRB. Sementara pertumbuhan tertinggi secara tahunan berasal dari konsumsi pemerintah yang meningkat 20,45 persen, didukung peningkatan belanja pegawai dan pelaksanaan berbagai program pelayanan.

Nurul Azizah menegaskan, Pemkab Bojonegoro akan terus memperkuat sektor-sektor produktif yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, termasuk pertanian, UMKM, ketahanan pangan, dan pengembangan ekonomi desa.

Menurutnya, arah pembangunan daerah saat ini sejalan dengan upaya menciptakan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan sehingga manfaat pertumbuhan dapat dirasakan hingga tingkat keluarga dan desa.

Berdasarkan data BPS, Bojonegoro saat ini menjadi penyumbang perekonomian terbesar kesembilan di Jawa Timur dengan kontribusi sebesar 3,20 persen terhadap perekonomian provinsi.

Pemkab Bojonegoro berharap tren positif tersebut dapat terus terjaga sepanjang tahun 2026 melalui kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, petani, serta seluruh elemen masyarakat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berdaya saing. (*/tih)

Editor : M. Nurkhozim
#Medhayoh #pemkab bojonegoro #Ekonomi #bps