RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Beda pimpinan, beda kebijakan. Bahkan, cenderung mengubah perencanaan pembangunan.
Seperti rencana pembangunan pembangunan flyover atau jembatan layang di empat titik di periode Bupati Anna Mu’awanah dan Wakil Bupati Budi Irawanto sebelumnya, sudah merencanakan flyover di Jetak, Proliman, Medalem, dan Padangan tak kunjung ada kepastian.
Sebaliknya, dinas pekerjaan umum, bina marga, dan penataan ruang (PUBMR) sedang fokus rencana pembangunan jalur lingkar selatan (JLS) yang rencananya juga terintegrasi dengan flyover.
‘’Itu di luar ini (integrasi flyover dengan JLS, red),” Kata Kepala Dinas PUBMPR Bojonegoro Chusaifi Ivan Rachmanto saat dikonfirmasi pascapembahasan JLS di ruang Komisi D DPRD Bojonegoro, Rabu (18/2).
Menurut dia, masih fokus rencana pembangunan JLS. Sehingga belum memberi jawaban pasti apakah empat titik flyover tersebut jadi dibangun.
‘’Masih fokus JLS. Tidak jadi, belum,” ucapnya sembari memasuki lift DPRD Bojonegoro itu.
Sementara itu, Teguh Wicaksono salah seorang warga Kelurahan Jetak, Kecamatan Kota mengatakan, mendengar informasi flyover ditunda. ‘’Katanya pending (ditunda, red) informasi dari DPRD. bupati fokus ke ring road (JLS, red),” kata Teguh Wicaksono salah satu warga Kelurahan Jetak, Kecamatan Kota, Rabu (25/2).
Teguh melanjutkan, pembangunan flyover Jetak menerima pro-kontra dari masyarakat. Termasuk pihaknya yang konttra jika dibangun di titik terakhir peninjauan.
‘’Karena ada tempat yang lebih perlu dbangun atau dicarikan solusi kemacetannya. Misal Jalan Rajekwesi ke Jalan HOS Cokroaminoto yang dulunya dikaji lebih awal untuk flyover Jetak,” ujarnya.
Sedangkan, berdasar data layanan pengadaan secara elektronik (LPSE), pada 2024 empat titik rencana pembangunan memasuki tahap studi kelayakan untuk flyover Padangan dan Medalem. Masing-masing dianggarkan Rp 400 juta. Sementara, flyover Jetak dan Proliman sudah memasuki analisis dampak lalu lintas (andalalin) dengan pagu masing-masing Rp 300 juta. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana