RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Musim panen raya padi musim tanam pertama di Bojonegoro tahun ini dipastikan maju, dibanding tahun sebelumnya. Jika Februari tahun lalu belum panen raya, pada tahun ini akhir Februari diprediksi mulai panen raya.
Saat panen raya, sudah menjadi langganan harga gabah anjlok. Apalagi tahun ini serapan gabah tak maksimal, karena terebatasan fasilitas, mulai pengering hingga gudang, bahkan anggaran.
Sebaliknya, petani saat panen kesulitan mengeringkan gabah untuk ditunda penjualan, karena cuaca kurang mendukung di musim penghujan. Sehingga, salah satu solusinya alat pengering gabah.
‘’Biasanya saat panen raya, harga murah, petani mau menjemur gabah, biasanya mendung, karena musim hujan. Solusinya, alat pengering gabah,’’ kata Anam, salah satu petani di Kecamatan Kapas kemarin.
Sementara itu, tak semua hasil panen bisa dijual ke badan urusan logistik (bulog). Sebab, ada keterbatasan dari gudang penyimpanan, alat pengering, hingga ketersediaan anggaran. ‘’Berkaca dari tahun lalu puncak panen raya di Maret, sama baik di Bojonegoro, Tuban, maupun Lamongan,” kata Pimpinan Cabang (Pinca) Bulog Bojonegoro Ferdian Darma Atmata, Selasa (10/2).
Menurut Ferdian, tahun ini masa panen raya diprediksi maju dibanding tahun lalu, mengacu data di Februari tahun lalu Bojonegoro panen padi sekitar 80 ribu ton, saat ini mencapai 280 ribu ton.
‘’Seperti di wilayah Kecamatan Kedungadem, Sugihwaras, Sumberrejo, Kanor itu memang belum (panen, red) tapi sudah tua. Prediksi saya mungkin minggu depan,” imbuhnya.
Dia mengatakan, jika berdasar data badan pusat statistik (BPS) panen mencapai 281 ribu ton, minggu depan panen sekitar 110 ribu ton. Sisanya 170 ribu ton di minggu ke empat Februari.
‘’Tapi, balik lagi kalau di persiapan kami tetap belajar dari tahun lalu. Kelemahan kami itu dari sarana untuk melakukan pengeringan,” tandasnya.
Gabah itu, kata dia, tidak tahan lama. Kunci utama menjaga kualitas itu di pengering. Bojonegoro di waktu yang sama Februari-Maret menghasilkan sekitar 356 ribu ton. Jika dirata-rata sehari ada 11,8 ribu ton. ‘’Masih banyak yang belum terserap,” bebernya.
Dia melanjutkan, jika gabah tersebut diserap tanpa langsung diolah dipastikan rusak. Tahun ini, melalui dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP) difaslitasi untuk penambahan pengeringan meski tidak signifikan.
Sebab, secara umum di Bojonegoro belum ada penggilingan berkapasitas besar. ‘’Kunci utamanya di situ (pengering). Kalau sudah kering, setahun aman itu,” tegas pria kelahiran Madura itu.
Kemudian, tak kalah penting yakni gudang. Setelah kering disimpan, baik gabah maupun beras. Karena keterbatasan ini tak jarang membuka penawaran bagi masyarakat yang memiliki gudang untuk disewa. Syaratnya bangunan permanen, akses jalan mudah, hingga luas sekitar 800 meter persegi.
Sesuai instruksi badan pangan nasional (bapanas), bulog diminta menyerap semua kualitas gabah petani dengan harga Rp 6.500 per kilogram (kg) gabah kering panen (GKP). Sesuai harga pembelian pemerintah (HPP). ‘’Instruksinya semua kualitas gabah petani dibeli dengan harga Rp 6.500 per kg,” jelas pria asal Pamekasan itu. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana