RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Dana Bagi Hasil (DBH) dari sektor minyak dan gas bumi (Migas) yang selama ini menjadi penopang pendapatan Kabupaten Bojonegoro terus menunjukkan tren penurunan.
Kondisi tersebut kian tertekan oleh melemahnya harga minyak dunia. Data Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Bojonegoro mencatat, penerimaan DBH Sumber Daya Alam (SDA) yang mayoritas berasal dari Migas sempat mencapai puncaknya pada 2023 sebesar Rp 2,468 triliun.
Namun, pada 2024 angka tersebut turun menjadi Rp 1,998 triliun dan kembali menyusut pada 2025 menjadi Rp 1,947 triliun. Tren penurunan ini diperkirakan berlanjut pada 2026, seiring alokasi DBH SDA dalam APBD Kabupaten Bojonegoro yang hanya dipatok sebesar Rp 942 miliar.
Kepala Bapenda Bojonegoro Yusnita Liasari menjelaskan, penurunan DBH Migas dipengaruhi oleh sejumlah faktor teknis di luar kewenangan pemerintah daerah, seperti fluktuasi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP), serta penyesuaian lifting atau volume produksi siap jual.
“Perubahan DBH Migas sangat dipengaruhi oleh harga minyak dunia. Selain itu, terdapat penyesuaian lifting atau produksi siap jual dari blok-blok Migas yang berada di Bojonegoro,” kata Yusnita.
Ia menambahkan, selain faktor harga dan produksi, mekanisme serta kebijakan penyaluran DBH dari pemerintah pusat juga turut memengaruhi besaran DBH Migas yang diterima daerah.
Kondisi tersebut sejalan dengan pendapatan negara dari sektor Migas secara nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, dalam konferensi pers capaian kinerja sektor ESDM, mengungkapkan realisasi harga minyak mentah Indonesia sepanjang 2025 berada di bawah asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Asumsi kita di APBN, ICP itu 82 dolar per barel, namun kenyataannya sejak Januari hingga Desember hanya sekitar 68 dolar. Itu berdampak pada pendapatan negara kita,” ujar Bahlil pada 8 Januari lalu.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat pendapatan negara dari sektor Migas belum mencapai target. “Karena itu, pendapatan di sektor migas mencapai Rp 105,4 triliun dari target Rp 125 triliun. Jadi, totalnya sekitar 83 persen,” jelasnya. (dan/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana