Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Harga Gabah Bojonegoro Bakal Anjlok

M. Nurkhozim • Selasa, 6 Januari 2026 | 22:52 WIB
PANEN PADI: Petani sedang memanen padi, Pemkab Bojonegoro menargetkan tahun depan produksi tertinggi ke dua se jatim
PANEN PADI: Petani sedang memanen padi, Pemkab Bojonegoro menargetkan tahun depan produksi tertinggi ke dua se jatim

Bojonegoro telah menjadi daerah penghasil gabah terbesar di Jawa Timur sejak November 2025. Status tersebut masih bertahan hingga saat ini. Apakah pada 2026 Bojonegoro masih mampu mempertahankan posisi puncak atau justru menyalip Lamongan menjadi nomor satu. Waktu yang akan menjawabnya.

Dalam tulisan ini, saya tidak ingin membahas panjang lebar soal capaian produksi tersebut. Fokus utama justru pada persoalan mendasar dalam pertanian padi, khususnya yang kerap berulang setiap musim panen.

Dalam satu hingga dua bulan ke depan, Bojonegoro dan daerah sekitarnya akan memasuki masa panen raya padi. Hampir dapat dipastikan petani di seluruh Jawa Timur akan panen pada waktu yang bersamaan. Hal ini disebabkan oleh masa tanam yang relatif serentak, sehingga masa panennya pun datang bersamaan.

Panen serentak inilah yang disebut panen raya. Saat semua petani memanen pada waktu yang sama, satu hukum ekonomi tak terelakkan berlaku: supply and demand. Ketika pasokan melimpah, sementara permintaan tidak mengalami peningkatan signifikan, harga komoditas hampir pasti akan turun.

Kondisi ini kerap terjadi saat panen raya. Harga gabah nyaris selalu jatuh, bahkan sering kali berada jauh di bawah Harga Pokok Pembelian (HPP) pemerintah yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram. Bagi petani, situasi ini tentu menyedihkan. Namun, mereka tidak memiliki banyak pilihan. Harga gabah sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar. Mau tidak mau, hasil panen harus dijual dengan harga yang berlaku saat itu.

Apakah persoalan ini tidak memiliki solusi? Tentu ada.

Pertama, saat panen raya petani seharusnya tidak menjual seluruh gabah hasil panennya. Gabah dapat dikeringkan dan disimpan dengan baik di lumbung atau gudang. Ketika harga kembali normal, gabah tersebut dapat dijual dengan harga yang lebih menguntungkan. Bahkan, jika dijual pada musim kemarau, harganya hampir dipastikan akan lebih tinggi.

Kedua, peningkatan kualitas gabah menjadi keharusan. Bojonegoro memang menjadi salah satu penghasil gabah terbesar di Jawa Timur. Namun, dari sisi kualitas, gabah Bojonegoro masih kalah dibandingkan Tuban.
“Beras Tuban kualitasnya jauh di atas Bojonegoro,” ujar Pimpinan Cabang Bulog Bojonegoro, Ferdian Darma Atmaja.
Menurutnya, kualitas gabah yang baik membuat harga di Tuban relatif stabil dan tidak pernah jatuh meskipun pasokan melimpah saat panen raya.

Ketiga, menghindari panen raya dengan menerapkan pola panen bertahap. Panen padi yang dilakukan secara bergiliran dapat mencegah lonjakan pasokan dalam waktu singkat. Data tahun lalu menunjukkan, produksi padi pada Januari hanya sekitar 30 ribu ton, Februari meningkat menjadi 50 ribu ton, lalu melonjak tajam pada Maret hingga mencapai 320 ribu ton. Lonjakan drastis inilah yang langsung mengguncang pasar dan menyebabkan harga gabah anjlok.

Dengan pola panen yang lebih terencana dan bertahap, tekanan terhadap harga dapat dikurangi. Petani pun memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh harga gabah yang layak.

Indonesia telah berhasil mencapai swasembada beras. Bojonegoro pun telah berkontribusi besar melalui peningkatan produksi gabah. Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan kesejahteraan petani tetap terjaga, salah satunya dengan melindungi harga gabah agar tidak terus-menerus terpuruk setiap kali panen raya tiba. (NURKOZIM)

Editor : M. Nurkhozim
#bulog bojonegoro #Setyo Wahono dan Nurul Azizah #DKPP Bojonegoro