RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bukan hanya pemilik kendaraan dengan bahan bakar pertalite yang resah, karena motornya mogok setelah mengisi bahan bakar minyak (BBM).
Sopir truk dan armada lain yang menggunakan bahan bakar solar juga gelisah.
Sebab, sepekan terakhir ini terjadi antrean panjang pembelian bahan bakar bersubsidi itu. Seperti di SPBU Jalan Ahmad Yani dan Jalan Veteran Bojonegoro kemarin (30/10)
Bahkan, terjadi kekosongan di SPBU, sehingga terpaksa truk parkir dulu untuk antre menunggu kiriman pengisian solar di SPBU setempat. Namun, Pertamina membantah terjadi kelangkaan.
‘’Sudah antre saja kadang tidak dapat solar,’’ kata salah satu sopir truk Darsono.
Menurut dia, antrean solar bukan kali ini, hampir terjadi setiap tahun. Tepatnya, saat menjelang akhir tahun. Namun, sebagai sopir tetap sabar dengan rela antre, meski memakan waktu lebih lama.
‘’Kami berharap ke depan tidak antre lagi,’’ harapnya.
Pengawas SPBU Ngrowo Mujib mengatakan, antrean yang terjadi disebabkan di SPBU lain belum ada solar. Sehingga konsumen atau pembeli terkumpul di SPBU yang memiliki solar.
Mujib memperkirakan SPBU yang belum memiliki solar karena pengiriman telat dan ada lonjakan pembeli atau konsumen.
Terkait pengiriman, Mujib mengaku dari Pertamina sudah menjadwalkan dan menentukan jumlah pengiriman. Sementara SPBU tidak boleh meminta tambahan. Terlebih pengiriman dari terminal bahan bakar minyak (TBBM) Tuban meliputi beberapa wilayah. Mulai dari SPBU di Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Rembang, dan Blora
"Gresik, Rembang, dan Blora sebagian SPBU," terangnya.
Mujib menjelaskan di SPBU Ngrowo setiap hari mendapatkan jatah kiriman 8 kiloliter (KL). Biasanya hanya terjual 6 KL. Namun kini karena SPBU lain belum memiliki solar akhirnya banyak konsumen mengantre dan 8 KL solar habis dalam sehari.
"Karena di SPBU Ngrowo ada solar, jadi rame antrean pembeli," ungkapnya.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) mengklaim antrean tersebut bukan karena adanya kelangkaan. Melainkan, sekadar adanya kebutuhan solar di waktu yang bersamaan.
“Antrean belum tentu diartikan terjadi kelangkaan. Antrean menunjukan adanya kebutuhan akan barang yang sama di waktu bersamaan,” kata Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi.
Menurutnya, stok biosolar di SPBU wilayah Tuban, Bojonegoro, dan sekitarnya ada. Juga, tersedia. Sehingga, dipastikan bukan karena kekosongan.
“Jika ada yang kosong statusnya, sedang dalam pengiriman. Karena kami memantau secara digital stok produk di masing-masing SPBU,” terangnya.
Dia melanjutkan, penyaluran biosolar harus sesuai dengan jumlah kuota penugasan yang telah ditetapkan oleh pemerintah kepada Pertamina. Karena biosolar merupakan salah satu jenis produk bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
“Harus disalurkan sesuai dengan jumlah kuota penugasan yang ditetapkan oleh pemerintah kepada Pertamina,” pungkasnya. (ewi/irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana