Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Bengawan Solo di Bojonegoro: Dua Wajah Sungai Terpanjang di Jawa, Antara Berkah dan Bencana

Bhagas Dani Purwoko • Kamis, 7 Agustus 2025 | 02:39 WIB
Keberadaan aliran Bengawan Bengawan Solo di Bojonegoro menjadi penting bagi kebutuhan petani.
Keberadaan aliran Bengawan Bengawan Solo di Bojonegoro menjadi penting bagi kebutuhan petani.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Alirannya tenang namun menghanyutkan, warnanya cokelat pekat membawa kesuburan. Itulah Bengawan Solo, sungai terpanjang di Pulau Jawa yang membelah Kabupaten Bojonegoro menjadi dua. Bagi masyarakat di tepiannya, sungai ini adalah panggung kehidupan dengan dua wajah yang kontras: anugerah sekaligus ancaman.

Lebih dari sekadar aliran air, Bengawan Solo adalah saksi bisu perjalanan peradaban, urat nadi pertanian, dan sumber inspirasi abadi. Namun, setiap tahun, wajahnya bisa berubah murka, membawa bencana banjir yang menguji ketangguhan warganya. Artikel ini mengupas tuntas peran ganda sang bengawan bagi tanah Bojonegoro.

Jejak Peradaban: Dari Manusia Purba hingga Inspirasi Dunia

Jauh sebelum menjadi jalur transportasi di era kerajaan, Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo adalah rumah bagi kehidupan purba. Teras-teras sungainya di wilayah Ngandong (Blora) dan Trinil (Ngawi), yang tak jauh dari Bojonegoro, menjadi lokasi penemuan fosil Homo erectus yang menggemparkan dunia. Ini membuktikan bahwa lembah sungai ini adalah salah satu buaian peradaban manusia di Asia.

Berabad-abad kemudian, keagungan sungai ini diabadikan oleh maestro keroncong, Gesang Martohartono. Lagunya yang legendaris, "Bengawan Solo" (1940), berhasil menangkap jiwa sang sungai dan membawa namanya melintasi samudra, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan menjadi simbol nostalgia Indonesia di mata dunia.

Urat Nadi Agraris: Sumber Kehidupan Ribuan Petani

Wajah paling ramah dari Bengawan Solo adalah perannya sebagai sumber kehidupan. Airnya yang melimpah menjadi tulang punggung bagi sektor pertanian Bojonegoro, salah satu lumbung pangan Jawa Timur.

Tanpa Bengawan Solo, lanskap agraris Bojonegoro tidak akan seperti sekarang.

Wajah Murka Sang Bengawan: Catatan Panjang Bencana Banjir

Setiap musim penghujan, ketenangan Bengawan Solo sirna. Warga Bojonegoro, terutama yang tinggal di sepanjang bantaran dari Kecamatan Margomulyo hingga Baureno, hidup dalam kewaspadaan. Bojonegoro berada di hilir, menerima kiriman air dari hulu di Jawa Tengah, sehingga menjadi "langganan" banjir luapan.

Menurut data dari BPBD Bojonegoro dan BBWS Bengawan Solo, siaga banjir (hijau, kuning, hingga merah) menjadi status rutin yang dipantau ketat. Banjir tidak hanya merendam permukiman dan lahan pertanian, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi dan sosial, meninggalkan kerugian yang tidak sedikit setiap tahunnya.

Ikhtiar Menjinakkan Sungai: Proyek Mitigasi Skala Besar

Hidup berdampingan dengan ancaman banjir membuat upaya mitigasi menjadi prioritas utama. Pemerintah, melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dan Kementerian PUPR, terus melakukan berbagai rekayasa teknis untuk mengendalikan amukan sungai.

Upaya tersebut meliputi:

Bengawan Solo adalah guru kehidupan bagi masyarakat Bojonegoro. Ia mengajarkan tentang pentingnya bersyukur atas berkah kesuburan, sekaligus menuntut kewaspadaan, adaptasi, dan semangat gotong royong untuk menghadapi tantangan. Upaya untuk hidup harmonis dengan sang bengawan adalah perjuangan abadi yang membentuk karakter tangguh masyarakat di tepiannya. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#Bencana #mitigasi #bengawan solo #Purba #Sungai #jawa #bojonegoro #berkah