RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Alirannya tenang namun menghanyutkan, warnanya cokelat pekat membawa kesuburan. Itulah Bengawan Solo, sungai terpanjang di Pulau Jawa yang membelah Kabupaten Bojonegoro menjadi dua. Bagi masyarakat di tepiannya, sungai ini adalah panggung kehidupan dengan dua wajah yang kontras: anugerah sekaligus ancaman.
Lebih dari sekadar aliran air, Bengawan Solo adalah saksi bisu perjalanan peradaban, urat nadi pertanian, dan sumber inspirasi abadi. Namun, setiap tahun, wajahnya bisa berubah murka, membawa bencana banjir yang menguji ketangguhan warganya. Artikel ini mengupas tuntas peran ganda sang bengawan bagi tanah Bojonegoro.
Jejak Peradaban: Dari Manusia Purba hingga Inspirasi Dunia
Jauh sebelum menjadi jalur transportasi di era kerajaan, Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo adalah rumah bagi kehidupan purba. Teras-teras sungainya di wilayah Ngandong (Blora) dan Trinil (Ngawi), yang tak jauh dari Bojonegoro, menjadi lokasi penemuan fosil Homo erectus yang menggemparkan dunia. Ini membuktikan bahwa lembah sungai ini adalah salah satu buaian peradaban manusia di Asia.
Berabad-abad kemudian, keagungan sungai ini diabadikan oleh maestro keroncong, Gesang Martohartono. Lagunya yang legendaris, "Bengawan Solo" (1940), berhasil menangkap jiwa sang sungai dan membawa namanya melintasi samudra, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan menjadi simbol nostalgia Indonesia di mata dunia.
Urat Nadi Agraris: Sumber Kehidupan Ribuan Petani
Wajah paling ramah dari Bengawan Solo adalah perannya sebagai sumber kehidupan. Airnya yang melimpah menjadi tulang punggung bagi sektor pertanian Bojonegoro, salah satu lumbung pangan Jawa Timur.
-
Irigasi Vital: Ribuan hektare sawah, terutama untuk tanaman padi dan palawija, sangat bergantung pada pasokan air dari Bengawan Solo dan anak-anak sungainya.
-
Kesuburan Tanah: Endapan lumpur yang terbawa saat banjir, meskipun merugikan dalam jangka pendek, secara alami menyuburkan tanah di bantaran sungai dalam jangka panjang, menjadikannya lahan pertanian yang produktif.
Tanpa Bengawan Solo, lanskap agraris Bojonegoro tidak akan seperti sekarang.
Wajah Murka Sang Bengawan: Catatan Panjang Bencana Banjir
Setiap musim penghujan, ketenangan Bengawan Solo sirna. Warga Bojonegoro, terutama yang tinggal di sepanjang bantaran dari Kecamatan Margomulyo hingga Baureno, hidup dalam kewaspadaan. Bojonegoro berada di hilir, menerima kiriman air dari hulu di Jawa Tengah, sehingga menjadi "langganan" banjir luapan.
Menurut data dari BPBD Bojonegoro dan BBWS Bengawan Solo, siaga banjir (hijau, kuning, hingga merah) menjadi status rutin yang dipantau ketat. Banjir tidak hanya merendam permukiman dan lahan pertanian, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi dan sosial, meninggalkan kerugian yang tidak sedikit setiap tahunnya.
Ikhtiar Menjinakkan Sungai: Proyek Mitigasi Skala Besar
Hidup berdampingan dengan ancaman banjir membuat upaya mitigasi menjadi prioritas utama. Pemerintah, melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dan Kementerian PUPR, terus melakukan berbagai rekayasa teknis untuk mengendalikan amukan sungai.
Upaya tersebut meliputi:
-
Pembangunan Tanggul: Membangun dan meninggikan tanggul di sepanjang titik-titik kritis untuk menahan luapan air.
-
Normalisasi Sungai: Mengeruk sedimen dan melebarkan alur sungai untuk meningkatkan kapasitas tampungnya.
-
Pembangunan Bendung Gerak: Mengoperasikan bendungan seperti Bendung Gerak Karangnongko untuk mengatur debit air dan pemanfaatannya saat kemarau.
-
Sistem Peringatan Dini: BPBD secara aktif menyebarkan informasi ketinggian air untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
Bengawan Solo adalah guru kehidupan bagi masyarakat Bojonegoro. Ia mengajarkan tentang pentingnya bersyukur atas berkah kesuburan, sekaligus menuntut kewaspadaan, adaptasi, dan semangat gotong royong untuk menghadapi tantangan. Upaya untuk hidup harmonis dengan sang bengawan adalah perjuangan abadi yang membentuk karakter tangguh masyarakat di tepiannya. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko