RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Rencana pemindahan Pasar Kota di periode bupati dan wakil bupati sebelumnya, dipastikan batal di periode Bupati Setyo Wahono dan Wakilnya Nurul Azizah.
Bahkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro berencana membangun pusat transaksi tradisional itu hingga tiga lantai, dengan dianggarkan di APBD 2026.
“Dulu waktu ada masalah (relokasi) kami berjuang agar tetap dan dibangun. Tidak diubah,” ujar Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Kota Bojonegoro Wasito, Senin (4/8) malam.
Dia melanjutkan, terjadi pertemuan antara pedagang; organisasi perangkat daerah (OPD) meliputi dinas perdagangan, koperasi, dan usaha mikro (dindagkopum), dinas perumahan, kawasan permukiman, dan cipta karya (PKPCK); satuan polisi pamong praja (satpol PP), dan dinas perhubungan (dishub); serta wakil bupati (wabup) minggu lalu. Dihadiri sebanyak 15 per wakilan pedagang dan sepuluh anggota paguyuban.
Salah satunya membahas pembangunan Pasar Kota. “Kemarin kami tanya ke wabup dibangun kapan, katanya tidak diubah (dipindah). Wabup menyatakan rencana dibangun 2026,” bebernya.
Menurut Wasito, rencana pembangunan Pasar Kota tidak hanya sekadar dibangun melainkan penambahan sarana dan prasarana (sarpras) hingga tiga lantai. Namun, minta dia, pembangunan harus mengakomodir pedagang yang memiliki surat sewa beli. Total sekitar 1.285 pedagang.
“Kami minta agar jumlah terpenuhi. Karena disampaikan yang aktif 1.191 pedagang. Nanti seumpama pedagang lainnya dari 1.285 atau hak warisnya ingin menempati bagaimana. Jadi, harus diantisipasi juga. Dan kami inginnya tetap di lantai satu,” tegas pria domisili Kelurahan Karangpacar, Kecamatan Kota itu.
Menurutnya, hal itu untuk mengantisipasi pengalaman serupa seperti di Pasar Sroyo, Dander, Kalitidu, hingga Banjarejo yang dinilai sepi pascadibangun bertingkat.
“Karena banyak pengalaman. Pasar sepi karena bangunan ngawur. Permintaan kami minta di lantai bawah,” katanya.
Dini Rizki Hidayatul Rohmah pengunjung Pasar Kota mengatakan, belum mengetahui rencana pembangunan pasar setempat. Namun, dinilai sangat mendukung jika benar dilakukan. Terutama di bagian depan seperti kios-kios baju hingga bahan pokok di belakang.
“Apalagi yang dalam ya itu juga kurang nyaman sebenarnya. Malah bisa dibuat mengendarai motor loh. Kalau dibangun harapannya bisa lebih nyaman,” kata Dini, sapaan akrabnya. (yna/msu)