Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

3.403 Hektare Tembakau di Bojonegoro Mati: Petani Terpaksa Tanam Lagi hingga Tujuh Kali, Harga Tergantung Cuaca Agustus

Yuan Edo Ramadhana • Jumat, 18 Juli 2025 | 04:14 WIB
Petani tembakau.
Petani tembakau.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Musim kemarau yang masih kerap turun hujan tahun ini merugikan petani tembakau. Dari sekitar 9.000 hektare tanaman tembakau di Bojonegoro, sebanyak 3.403 hektare luasan tembakau mati karena hujan.

Pengawas Mutu Hasil Pertanian (PMHP) Ahli Muda Subkor Tanaman Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Bambang Wahyudi mengatakan, kemarau basah mengancam tanaman tembakau di Bojonegoro. Mengakibatkan tembakau mati di usia muda karena diguyur hujan. Hal ini merugikan para petani tembakau.

Berdasar laporan DKPP Bojonegoro, sembilan kecamatan di Bojonegoro yang merupakan sentra tembakau terdampak kemarau basah. Meliputi Kecamatan Padangan; Sumberrejo; Temayang; Kasiman; Sugihwaras, dan Baureno.

Kemudian Kecamatan Sukosewu; serta Kedungadem. Tergenangnya lahan yang ditanami tembakau membuat tanaman layu dan mati. “Dari luasan sekitar 9.000 hektare di sembilan kecamatan tersebut, 3.403 hektare mati karena hujan,” ujarnya.

Dia melanjutkan, kemarau basah membuat para petani harus kembali menanam tembakau tiga hingga tujuh kali dalam musim ini. Mengingat, cuaca sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup tanaman tembakau.

Hal ini, tentu membuat petani tembakau di Bojonegoro mengalami kerugian. “Petani sudah pasti rugi. Karena tembakau mengandalkan panas matahari,” tegasnya.

Baca Juga: Di Acara Medhayoh, Petani Tembakau Sugihwaras Sambat Bupati

Sementara itu, Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) menyebut harga bergantung cuaca Agustus ke atas. Sebab, cuaca masih sulit ditebak. “Masih sedikit yang panen. Tanaman AprilMei awal,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Nasional (DPN) APTI, K. Mudi.

Dia melanjutkan, beberapa wilayah di Jawa Timur (Jatim) mulai panen di antaranya Magetan, Situbondo, serta Bojonegoro. Sedangkan lainnya, masih belum bisa ditebak. Karena cuaca masih anomali.

“Tidak bisa ditebak. Masih sering turun hujan,” ujar Mudi, sapaan akrabnya.

Menurutnya, sementara ini harga tembakau di Bojonegoro berkisar Rp 20-30 ribu untuk rajang jering. Sedangkan, untuk harga daun belum bisa dipastikan.

“Belum tahu. Untuk potensi harga tergantung cuaca besok di Agustus ke atas,” beber pria asal Kabupaten Lamongan ini. (ewi/yna/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Jawa Timur #apti #dkpp #tanaman tembakau #Petani #Hujan #Musim Kemarau #bojonegoro #Kemarau #tembakau #perkebunan #DKPP Bojonegoro #petani tembakau