BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Harga pembelian pemerintah (HPP) jagung direncanakan mengalami kenaikan selaras dengan dengan kenaikan HPP gabah dan beras. Namun, keputusan badan pangan nasional (kepbapanas) belum turun.
Sementara itu, harga jagung di petani tren turun. ‘’Turun dari sebelumnya,’’ kata Pariadi, petani jagung asal Desa Pejok, Kecamatan Kepohbaru kemarin (20/1).
Dia melanjutkan, harga jagung di wilayahnya tren turun dari sebelumya. Yakni Rp 3.500 per kilogram (kg) menjadi Rp 3.000 per kg jagung pipil basah. Menurutnya, harga ini bisa terus mengalami penurunan karena panen raya di Februari mendatang. ‘’Mesti saat panen raya harga akan turun. Perkiraan Februari. Dan ini sangat disayangkan, kami petani menangis kalau harga sampai Rp 3.000 per kg ke bawah,’’ keluhnya.
Pria tergabung KTH Tirto Gunut itu menyampaikan, jika benar ada rencana pemerintah menaikkan HPP perlu diawasi pelaksanaannya. Sebab, harga diberi menggembirakan petani namun, belum tentu harga sampai ke petani sesuai regulasi. ‘’Yang perlu diwaspadai harga itu apakah sampai di petani. Kan perlu pengawasan ini,’’ tandasnya.
Petani lainnya kerap disapa Guru Jono dari Kecamatan Temayang menambahkan, harga jagung di daerahnya Rp 3.400 per kg untuk pipil basah. Sedangkan, pipil kering Rp 4.500 per kg. Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Helmy Elisabeth mengatakan, HPP jagung juga mengalami kenaikan. Namun, regulasi belum keluar. Dari Rp 5.000 per kg menjadi Rp 5.500 per kg. ‘’Tapi kepbadan (keputusan badan) untuk jagung belum keluar,’’ terangnya. (yna/msu)
Editor : Hakam Alghivari