BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Harga pembelian pemerintah (HPP) gabah dan beras mengalami kenaikan mulai kemarin (14/1). Tertuang dalam Keputusan Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI Nomor 2 Tahun 2025.
Diklaim untuk menguntungkan petani dari sisi biaya produksi. Kenaikan ini disebut tidak memengaruhi harga eceran tertinggi beras (HET). ’’HPP gabah dari Rp 6.000 per kilogram (kg) menjadi Rp 6.500 per kg,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dna Pertanian (DKPP) Bojonegoro Helmy Elisabeth kemarin.
Helmy menjelaskan, berdasar keputusan HPP gabah kering panen (GKP) di petani dibeli seharga Rp 6.500 per kg. Kemudian, GKP di penggilingan dibeli Rp 6.700 per kg; gabah kering giling (GKG) di penggilingan dibeli Rp 8.000 per kg; dan GKG di gudang Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) dibeli seharga Rp 8.200 per kg.
Sementara itu, beras di perum bulog dibeli dengan HPP Rp 12.000 per kg. Menurutnya, untuk alasan kenaikan HPP merupakan kewenangan pusat. Namun, klaim dia, kenaikan harga bertujuan agar petani mendapat harga lebih baik dan menguntungan. Harapannya, sesuai biaya input atau dikeluarkan proses produksi. ’’Untuk HPP ini dari pusat,” terangnya.
Dikonformasi terpisah, Pemimpin Cabang (Pincab) Bulog Bojonegoro Ferdian Darma Atmaja membenarkan, HPP naik mulai kemarin. Namun, HET beras masih tetap. Sesuai Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) Nomor 5 tahun 2024 tentang Perubahan Perbadan Nomor 7 Tahun 2023.
Rinciannya, HET beras medium Rp 12.500 per kg dan premium Rp 14.900 per kg. ’’Untuk stok beras mencukupi sampai April,” tambah Ferdian. (yna/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana