Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Akibat Suhu Panas di Atas 35 Derajat Celsius, Produktivitas Tanaman di Bojonegoro Kurang Optimal

Yuan Edo Ramadhana • Senin, 7 Oktober 2024 | 17:40 WIB
Ilustrasi Produksi Tanaman. (GRAFIS: AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi Produksi Tanaman. (GRAFIS: AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Bojonegoro menjadi salah satu kota terpanas di Jawa Timur (Jatim). Berdasar data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jatim, suhu di Bojonegoro mencapai 37,6 derajat celsius.

Suhu panas ini tentu mengurangi optimalisasi pada produktivitas tanaman hasil pertanian di Bojonegoro. Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Zaenal Fanani mengatakan, tantangan pertanian ke depan semakin berat.

Selain karena kebutuhan pangan meningkat, sedangkan jumlah kepemilikan lahan semakin menurun karena alih fungsi dan sebagainya. Perubahan iklim juga menjadi tantangan tersendiri. ’’Perubahan iklim global ini sangat mengancam sektor pertanian di seluruh dunia,” ujarnya.

Dia melanjutkan, Bojonegoro menjadi kota yang paling panas di Jatim. Sehingga, peningkatan suhu ke depan akan menjadi salah satu perhatian dari DKPP. Karena tanaman memiliki kemampuan toleransi terhadap suhu.

Fotosintesis pada tanaman akan optimal pada suhu 35 derajat celcius. Di atas itu akan mengalami penurunan. Karena dalam proses fotosintesis diperlukan enzim-enzim. Dari penelitian yang dilakukan oleh Universitas Bojonegoro (Unigoro), selama sekitar dua tahun ini menunjukan bahwa Bojonegoro memiliki suhu rerata 38 derajat celsius.

Hal ini menjadi tantangan karena sudah melebihi kemampuan toleransi tanaman. ’’Pada komoditas seperti jagung, memiliki kemampuan optimal di suhu 35 derajat celcius. Ini sudah lebih dari 3 derajat celcius. Di mana peningkatan 1 derajat celcius ini akan menurunkan produksi,” paparnya.

Zaenal menyampaikan, produksi jagung yang diterima setiap tahun bukan yang sebenarnya. Karena suhu sudah melebihi ambang batas optimal. Suhu yang meningkat akan menyebabkan produksi tanaman berkurang.

Hal ini menjadi penting karena suhu menjadi faktor pembatas terhadap produksi dari sektor pertanian. Berapapun pupuk, air, dan hormon enzin yang diberikan serta apapun yang dilakukan.

Ketika suhu tidak pada sisi optimal, maka produksi tidak akan pernah tercapai. ’’PR besar yang harus kita sadari, masalah suhu di Bojonegoro menjadi faktor penting,” tuturnya.

Berdasar Satu Data Bojonegoro per Minggu  (6/10), produksi tanaman pada 2023 di Bojonegoro. Meliputi, luas tanam sekitar 252.492 hektare (ha), luas panen 248.065 ha, jumlah produksi 1.556.771 ton, dan provitas mencapai 4.009 kwintal (kw) per-ha.

Sedangkan, berdasar data pada 2024 baru terinput, luas tanam sekitar 130.821 ha, luas panen 60.730 ha, produksi 494.868 ton, dan provitas 2.367 kw per-ha.

Dikonfirmasi terpisah, Eko petani asal Kecamatan Dander mengatakan, hasil panen jagung tahun ini mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Salah satu pengaruhnya karena cuaca panas. Sehingga, membuat jagung lebih cepat kering atau kebrangas (kering belum saatnya). ’’Musim kemarau juga datang lebih awal. Saat jagung proses berbuah, sudah tidak ada hujan. Jadi, hasilnya tidak maksimal,” katanya. (ewi/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#dkpp #kebutuhan pangan #kota terpanas #suhu panas #unigoro #produktivitas #Jatim #kering #fotosintesis #Pertanian #tanaman #bojonegoro #BMKG #DKPP Bojonegoro