Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Trauma Tingginya Angka Perceraian, Angka Pernikahan di Bojonegoro Periode Januari-Mei Turun Tahun Ini

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 7 Juli 2024 | 20:46 WIB
Grafis Perbandingan Jumlah Pernikahan (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Grafis Perbandingan Jumlah Pernikahan (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Tren angka pernikahan di Bojonegoro mengalami penurunan. Dalam lima bulan, Januari hingga Mei 2024 angka pernikahan merosot 706 pasangan dibanding tahun lalu.

Turunnya jumlah pengantin dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya tingginya angka perceraian.

Berdasar data dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro, terdapat sebanyak 3.833 pasangan di Bojonegoro menikah pada Januari hingga Mei 2023. Menurun menjadi 3.127 pasangan menikah pada Januari hingga Mei 2024.

Jumlah total pernikahan di Bojonegoro juga mengalami penurunan setiap tahunnya. Yakni, angka pernikahan mencapai 9.843 pasangan pada Januari hingga Desember 2022. Kemudian, menurun menjadi 9.566 pasangan di Bojonegoro menikah pada Januari hingga Desember 2023.

Kepala Seksi (Kasi) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kemenag Bojonegoro Zaenal Arifin mengatakan, tren penurunan angka pernikahan terjadi di Bojonegoro. Penurunan yang terjadi cukup tajam. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Di antaranya, jumlah usia produktif yang bisa saja tidak sama dengan tahun sebelumnya. Kemudian, pemahaman tentang pernikahan juga memengaruhi penurunan angka pernikahan.

‘’Semakin paham tentang usia matang pernikahan akan menyebabkan penurunan dispensasi kawin (diska). Hal tersebut juga bisa menurunkan angka pernikahan,’’ paparnya.

Ia melanjutkan, tren kebanyakan kalangan anak muda yang menganggap bisa melakukan segala sesuatu sendiri, memilih untuk tidak menikah. Kalau pernikahan tidak membuat nyaman, mereka berfikir kenapa harus menikah. Pola pikir seperti itu sangat berpengaruh terhadap penurunan angka pernikahan di Bojonegoro. Meski, tidak semua memiliki pemikiran seperti itu.

‘’Solusinya, harus diberi pemahaman bahwa pernikahan itu tidak sama dengan apa yang mereka bayangkan. Ada juga yang lebih baik berkeluarga daripada tidak,’’ tuturnya.

Selain itu, menurut Pelaksana Tugas (plt) Kasubbag Tata Usaha Kantor Kemenag Bojonegoro tersebut, untuk menikah juga dibutuhkan pekerjaan atau ekonomi.

Ketersediaan lapangan kerja yang disediakan oleh pemerintah atau swasta juga bisa berpengaruh terhadap menurunkan angka pernikahan. Mengingat, orang akan mempertimbangkan keinginannya untuk menikah apabila belum memiliki pekerjaan.

‘’Solusinya, terkait pola pikir, harus diberi pemahaman bahwa pernikahan itu tidak sama dengan apa yang mereka bayangkan. Ada juga yang lebih baik berkeluarga daripada tidak,’’ tuturnya.

Evi Dwi perempuan 24 tahun asal Desa Sumberarum, Kecamatan Dander mengatakan, di usianya yang sekarang tidak tergesa-gesa untuk menikah. Tidak peduli kata orang, karena usia 24 menurutnya masih muda dan wajar apabila belum berumah tangga.

Dia memutuskan untuk masih melajang karena memang belum siap. Baik dari segi jodoh, mental, ataupun ekonomi. Sehingga, memutuskan untuk fokus pada karirnya terlebih dulu saat ini.

‘’Mau fokus kerja dulu sambil menunggu datangnya jodoh terbaik,’’ ujarnya.

Berdasarkan data dari Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro, tercatat 325 cerai talak, dan 902 cerai gugat di Bojonegoro hingga Mei 2024. Dari jumlah total 1.227 perkara perceraian tersebut, didominasi oleh persoalan ekonomi sebanyak 631 perkara (ewi/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#cerai #nikah #pa #Kemenag Bojonegoro #Kemenga #Januari #pernikahan #Mei #dander #Anak Muda #bojonegoro #menikah #Bimas #pengadilan agama #usia produktif #perceraian