Kasus PMK terbanyak di Kecamatan Sukosewu. Yakni, 103 kasus PMK. Selama 2022 terdapat 2.069 sapi terkena PMK dan 36 di antaranya mati. Penyebab meningkatnya kasus PMK belum diketahui pasti. Hingga saat ini dinas terkait bersama Balai Besar Veteriner (Bbvet) Wates Jogjakarta masih tahap penelitian.
Fungsional Medik dan Veteriner Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro Indra mengatakan, terdapat 2.475 sapi terkena wabah PMK mulai 14 Mei 2022 hingga kemarin (12/1). Terbanyak di Kecamatan Tambakrejo, yakni 258 sapi. ‘’Oktober hingga November kasus PMK sempat kosong,’’ ujarnya. Desember hanya ada beberapa ekor sapi terkena PMK. Dan, Januari langsung meningkat drastis.
Gejala PMK pada sapi, menurut Indra, meliputi keluar liur berlebih, sapi sering ngecap karena sudah mulai ada luka pada mulutnya. Muncul luka di hidung serta kaki. Luka-luka tersebut memengaruhi nafsu makan sapi. Saat terjadi gejala, dinas terkait melakukan penanganan peningkatan gizi. Yakni, berupa pemberian vitamin pada sapi.
‘’Juga dilakukan penyemprotan disinfektan,’’ ujarnya.
Indra mengatakan, Selasa (10/1) dan Rabu (11/1) dilakukan pengambilan sampel ulang di Kecamatan Dander, Kedungadem, dan Purwosari. Pengambilan sampel untuk mengetahui mutasi wabah PMK pada sapi-sapi di Bojonegoro. Serta, dinas peternakan dan perikanan kerja sama dengan fakultas kedokteran hewan (FKH) beberapa kampus untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kasus PMK di Kota Ledre ini. (ewi/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto