Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Sebanyak 42 Balita Gizi Buruk

M. Yusuf Purwanto • Jumat, 23 Desember 2022 | 16:46 WIB
ILustrasi (Ainur Ochiem/RDR.BJN)
ILustrasi (Ainur Ochiem/RDR.BJN)
BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kabupaten Bojonegoro belum terbebas dari balita gizi buruk. Data terakhir menyebutkan 42 balita. Butuh keseriusan dari semua pihak menekan angka gizi buruk, apalagi APBD Bojonegoro cukup tinggi, dibanding kabupaten tetangga.

 

Menurut Intan, alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga asal Bojonegoro, bayi berat badan lahir rendah (BBLR) salah satu penyebabnya karena status gizi buruk ibu.

 

Berdasar profil kesehatan Kabupaten Bojonegoro 2021, BBLR merupakan penyebab kematian bayi tertinggi di Kabupaten Bojonegoro. Permasalahan gizi buruk jika dibiarkan jangka panjang menurunkan tingkat produktivitas. “Status gizi seseorang berhubungan banyak faktor, seperti faktor internal, yakni umur, status kesehatan, hingga asupan gizi. Faktor eksternal meliputi pendidikan, penghasilan keluarga, kebiasaan, ketahanan pangan, pola asuh, sanitasi, dan lingkungan,” jelasnya.

 

Beberapa upaya penanganan gizi buruk di Bojonegoro misalnya Program Pesta Gita (peningkatan status gizi balita), metode positive deviance, dan ibu asuh. TFC (Terapuetik Feeding Center), PTM (pemberian makanan tambahan) pemulihan, serta memperkuat peningkatan-pemantapan sistem pencatatan dan pelaporan.

 

Retno Wati, kader kesehatan Desa Sumberarum, Kecamatan Dander menambahkan, penanganan balita gizi buruk dulu diberi susu dan biskuit. Sekarang diberi makanan lokal bergizi. Program ini mulai 7 Oktober hingga 30 Desember.

 

Setiap satu minggu sekali, dilakukan penimbangan memantau berat badan para balita. “Sejak awal program ini dilakukan, naiknya hanya sedikit. Hanya beberapa ons, tidak ada 1 kilogram,” tambah Retno.

 

Dia menambahkan, setiap hari anak-anak memiliki status gizi buruk mendapat makanan dari polindes. ‘’Biasanya juga nggak ada nasinya, tapi diganti makanan sehat lainnya,” ujar Siti, 27, salah satu ibu dari balita gizi buruk.

 

Kepala Puskesmas Dander, Evan Nugroho mengatakan, gizi buruk ini perlu penanganan dari beberapa pihak. Dari pemkab sendiri sudah mengkoordinir dengan baik. (ewi/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto
#Gizi Buruk #APBD Tinggi #bojonegoro #Balita #ptm #TFC