Pemkab mengalokasikan anggaran pemebebasan lahan Rp 146 miliar. Untuk memebaskan lahan sekitar 55. 253 meter persegi. Sehingga per meter persegi dianggarkan Rp 2,6 juta.
Sebaliknya, anggaran pembangunan hanya dianggarkan Rp 2 miliar.
Anggota Badan Anggaran DPRD Bojonegoro Ahmad Supriyanto mengatakan, anggaran pembebasan Flyover Jetak cukup besar. Harus dilakukan dengan benar. Yakni, melalui proses appraisal atau penghitungan harga sesuai dengan aturan yang berlaku.
Lahan yang akan digunakan Flyover Jetak dianggarkan Rp 2,6 juta per meter persegi. Luasnya mencapai 55.253 meter persegi. Total anggarannya Rp 146 miliar. Namun, wakil rakyat itu belum mengetahui lokasi persis lahan yang akan dibebaskan itu.
‘’Lokasinya ada di Jalan HOS Cokroaminoto,’’ katanya.
Semua anggaran itu, lanjutnya, ada di rencana kegiatan anggaran (RKA) 2023. Tahun depan pembangunan flyover dimulai. Namun, anggaran yang dipasang tidak terlalu besar. Yakni, Rp 2 miliar. Jauh lebih kecil dibanding anggaran pembebasan lahannya.
Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro Lasuri menambahkan, pembebasan lahan Flyover Jetak memang direncanakan tahun depan. Kemungkinan pembangunan yang dilakukan tahun depan masih permulaan. Pembangunan yang lebih besar akan dilakukan setelah lahan selesai dibeli oleh pemkab.
‘’Nanti jika pembebasan lahannya selesai bisa diteruskan pembangunan,’’ imbuhnya.
Flyover Jetak bakal dibangun antara Jalan HOS Cokro Aminoto tembus ke Jalan Bojonegoro-Cepu. Persisnya di sisi barat Jembatan Jetak. Tujuannya dibangun untuk mempermudah arus lalu lintas.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bina Marga dan Penataan Ruang Bojonegoro Retno Wulandari belum memberikan keterangan. Saat dikonfirmasi, hingga pukul 18.30 belum menjawab. (zim/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto