Ismiyati, pedagang ikan di Pasar Kota Bojonegoro mengeluhkan akhir-akhir ini kondisi pasar sepi. Ketika pasar ramai omzet Rp 2 juta per hari.
“Sedangkan hari-hari ini hanya bisa dapat omzet Rp 1 juta per hari,” bebernya. Selain itu, dampak dari kenaikan harga ikan laut akibat kondisi cuaca ekstrem. Sehingga pasokan ikan laut terbatas.
Akibat kenaikan harga ikan laut ini, ia mengurangi jumlah ikan yang dijual. Pasokan ikan laut yang dijual itu dari Kabupaten Tuban. Sedangkan pasokan ikan tawar diperoleh dari Kabupaten Lamongan, dan Gresik.
Terpisah, Penasihat Paguyuban Pedagang Pasar Kota Bojonegoro (PPPKB) Agus Mujiono menilai perlu dicarikan solusi untuk mendongkrak daya beli masyarakat ke pasar.
Agus menyampaikan saat rapat audiensi dengan jajaran Pemkab Bojonegoro pada Selasa lalu (8/11), bahwa konsep pasar 24 jam perlu diterapkan.
Andaikan, kata dia, saat perencanaan pembangunan Pasar Wisata ada komunikasi dengan para pedagang, ingin memberi banyak saran.
“Sayangnya kami tidak pernah satu kali pun diajak berbicara mengenai adanya pembangunan pasar wisata. Bahkan, pembangunannya diperuntukkan untuk memindah para pedagang,” ucapnya.
Adapun kondisi pedagang Pasar Kota saat ini sangat dirugikan, tak sedikit pedagang mengeluh karena nyaris tak ada pembeli. Sebab, kalah dengan pedagang lesehan, para pedagang sore-malam, dan para pedagang trotoar. “Padahal dulunya agar bisa punya bedak, toko, dan los itu para pedagang harus sewa beli, bayar retribusi, asuransi, pajak bumi bangunan, dan lainnya,” imbuhnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Bojonegoro Nurul Azizah menyatakan, bahwa rapat pertemuan itu merupakan ruang diskusi maupun audiensi guna menampung semua masukan dari pedagang. Guna bersinergi untuk menemukan landasan yang baik. Sekda hadir bersama Kepala Disdagkop UM Sukaemi dan Inspektur Teguh Prihandono. (bgs/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto