Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Rawon Merakyat Bertabur Serundeng

M. Yusuf Purwanto • Senin, 24 Oktober 2022 | 01:22 WIB
(M. NURKOZIM/RDR.BJN)
(M. NURKOZIM/RDR.BJN)
BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Aroma rawon begitu tercium saat melintas di lorong Pasar Kota Bojonegoro sisi selatan. Lorongnya membujur timur barat, kanan kiri terdapat kios-kios kuliner. Begitu masuk, terdapat tanda Rawon De Rah Nomor 6, dari situlah aroma sayuran dengan khas kluwek tersebut muncul.

Rawon di Pasar Kota ini termasuk kuliner legendaris. Sehari, bisa menghabiskan ratusan porsi. Rawon De Rah legendaris karena sudah berusia cukup tua, yakni hampir 71 tahun. Kali pertama buka pada 1951 oleh Masirah.

Awalnya, berlokasi di pojok barat pasar. Seiring pasar dibangun, lokasinya saat ini ada di lorong dalam sisi timur selatan Pasar Kota. Saat ini, warung dipegang oleh Kasiyem, anak Masirah. Kasiyem sudah diajak berjualan ibunya sejak masih duduk bangku sekolah dasar (SD). Sehingga, dia hapal dan mahir membuat rawon seperti buatan ibunya.

‘’Mbah Masirah meninggal 2001 lalu,’’ ujar Kasiyem ditemui di warungnya kemarin siang (22/10).

Rawon De Rah ini cukup bersahabat dengan masyarakat. Semua bisa menikmati karena tidak perlu takut mahal. Bisa dianggap rawon antimahal. Seporsi hanya Rp 8.000. Ditambah es teh segelas, total sekali makan hanya habis Rp 10.000. Sangat terjangkau. Tidak heran pembeli hilir berdatangan.

Rawon Mak Rah ini tidak semuanya daging. Dilengkapi jeroan sapi telah dimasak dengan empuk. Kekhasan lainnya rawon disajikan dengan kecambah dan serundeng atau olahan kelapa parut yang dimasak dengan ragam bumbu. Serundeng ini seperti tapping dan menjadi pembeda dengan rawon lainnya. Itu membuat cita rasa Rawon Mak Rah semakin disukai pembeli.

Tampilan warung sangat sederhana. Berada di stan dalam pasar kota berukuran 3x3 meter. Di dalam warungnya tidak ada dapur khusus. Pelanggan membeli dan makan di situ bisa melihat proses memasaknya langsung.

Kasiyem mulai menyiapkan daganganya sejak pukul 02.30 dini hari. Proses memasak semua dilakukan di warung. Pukul 07.00 rawon siap dijual. Pembeli mulai berdatangan untuk sarapan pagi. Saking legendaris, pelanggan dari sejumlah kecamatan di Bojonegoro dan Tuban. Biasanya pelanggan tetap turun-temurun. (zim/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto
#Wisata #rawon #kuliner #pasar kota #Hobi #Makanan