Temuan tersebut didominasi usia produktif dengan rincian 24 ODHA usia 25-49 tahun, 7 ODHA usia 50 tahun ke atas, 5 ODHA usia 20-24 tahun, dan 2 ODHA usia 15-19 tahun.
Hingga sekarang belum ada laporan ODHAmeninggal dunia. Namun, menurut pihak KPAD Bojonegoro, jumlah temuan kasus di triwulan pertama tergolong tinggi.
Sekretaris KPAD Bojonegoro Joni Nur Hariyanto menerangkan, bahwa triwulan pertama 2022 jauh lebih banyak temuan kasus HIV dibanding AIDS. Namun, kali ini dari 38 ODHA itu rinciannya 27 HIV dan 11 AIDS.
“Ada kemungkinan beberapa ODHA tidak tertib terapi minum obat ARV (antiretroviral) atau kasus baru sudah ditemukan dalam kondisi sudah AIDS,” ujar Joni.
Karena itu, penting mengedukasi masyarakat untuk rutin tes HIV apabila merasa melakukan prilaku seks berisiko. Jika malu periksa di fasilitas kesehatan, maka bisa juga dengan cara donor darah di Palang Merah Indonesia (PMI). Selanjutnya, pihak PMI akan menghubungi apabila kandungan darah yang bersangkutan terinfeksi HIV, AIDS, atau penyakit menular seksual.
“Jadi penting sekali melakukan tes HIV, karena biasanya ketika masih HIV, virusnya masih bisa dikendalikan. Apabila terlambat, virus HIV itu akan berkembang menjadi AIDS,” imbuhnya.
Perlu diketahui, jarak infeksi HIV berkembang menjadi AIDS sekitar delapan hingga sepuluh tahun. Akibatnya, seringkali masyarakat abai melakukan tes HIV sejak dini. Sebab, ketika seseorang terinfeksi HIV, biasanya hanya merasakan gejala-gejala ringan. Lalu, beberapa tahun kemudian virus pun berkembang menjadi AIDS yang mana gejalanya sudah akut dan mematikan.
Terpisah Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bojonegoro Whenny Dyah Prajanti menambahkan, bahwa stigma masyarakat terhadap ODHA juga masih sulit diredam. Padahal HIV tidak menular kepada orang lain dengan mudah.
Virus ini tidak menyebar melalui udara seperti virus batuk dan flu. HIV itu virus, dan virus itu butuh inang. Virus HIV bisa bertahan hidup di dalam darah dan beberapa cairan tubuh. “Tapi cairan seperti air liur, keringat, atau urine tidak bisa menularkan virus ke orang lain. Ini karena kandungan virus di cairan tersebut tidak cukup banyak,” katanya.
Cairan tubuh yang menularkan HIV ialah cairan darah, dinding anus, ASI, sperma, cairan vagina, termasuk darah menstruasi. HIV juga tidak tertular dari ciuman, air ludah, gigitan, bersin, berbagi perlengkapan mandi, handuk atau peralatan makan, memakai toilet atau kolam renang yang sama, digigit binatang atau serangga seperti nyamuk.
Harapannya, deteksi dini bisa semakin ditingkatkan agar temuan kasus HIV lebih cepat tecatat. Mengingat pandemi Covid-19 sudah landai. “Karena temuan AIDS ini lebih mudah dibanding HIV. Sebab biasanya orang yang sudah AIDS ketahuan ketika masuk rumah sakit. Jadi sudah terlambat,” pungkasnya. (bgs/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto