Kepala Urusan (Kaur) Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Desa Sukorejo Masrukan menyampaikan, asal muasal dijuluki Singonoyo dengan arti macan yang kuat. Tentu, karena kepiawaiannya dalam ilmu olah kanuragan digunakan untuk melawan kejahatan. Mbah Singonoyo bisa dibilang wali, karena menyebarkan agama Islam di Desa Sukorejo.
Ayahnya Mbah Singonoyo bernama Syahidu bin Raden Santri bin Raden Paku atau Sunan Gunung Jati. “Menurut kepercayaan warga setempat, Mbah Singonoyo ini merupakan wali menyebarkan ajaran agama Islam di Desa Sukorejo,” kata pria kelahiran 1971 itu.
Tidak heran yang ziarah ke makam Mbah Singonoyo tidak hanya warga Bojonegoro. Ada juga warga Tuban, bahkan pernah datang peziarah dari Jawa Tengah maupun Jawa Barat. “Jadi ketika ada orang yang punya niat jelek atau musyrik ke makam Mbah Singonoyo pasti tidak akan direstui. Kadang ditampakkan setan agar orang itu pergi dari makam,” bebernya.
Adapun warga Desa Sukorejo setiap tahunnya menggelar acara Haul Mbah Singonoyo diisi pengajian di pertigaan kuburan kembar. “Haulnya tanggal 10 bulan Sapar. Mulai 1995 acaranya pengajian, kalau dulunya manganan atau sedekah bumi yang syarat dengan kegiatan mabuk-mabukan,” jelasnya.
Terkait label angker, Masrukan tak menampiknya. Sosok hantu sering jadi cerita turun temurun ialah penampakan pocong. Ada juga cerita semasa kecilnya pernah ada empat penjahat kabur dari kejaran warga dan polisi, lalu bersembunyi di kuburan kembar.
“Saat sembunyi, empat penjahat itu tidak ditemukan warga.
Akhirnya karena merasa berutang budi dengan leluhur kuburan kembar yakni Mbah Singonoyo, keempat penjahat diceritakan insaf atau taubat,” pungkasnya. (bgs/rij)