Radar Tuban – Media sosial baru-baru ini sempat ramai dengan topik pembahasan thrift atau barang bekas yang impor dengan kualitas highend atau kelas atas. Fenomena thrifting tengah digandrungi sejumlah kalangan.
Tanpa terkecuali di Tuban. Kesempatan inilah yang tidak disiasiakan para pebisnis untuk meraup untung. Veni Septia Katarina adalah salah satu pemilik usaha yang menerjuni bisnis tersebut di Tuban.
Diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban, dia mengatakan, tidak semua baju dijual. Dia hanya memajang baju yang menjadi tren dan branded. Kelasnya pun premium ke atas. Perempuan 22 tahun ini membuka gerai pakaian bekas berkelas di Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang pada April 2020.
‘’Mulanya, saya sering thrifting dan melihat peluang itu,’’ ujarnya. Veni sapaan akrabnya, membuka toko baju bekas berkelas secara offline dan online. Diantaranya bernuansa vintage atau gaya zaman dulu. Jenis busana ini meliputi hoodie, kaus, dan ziphodie.
‘’Model itu dipilih karena sedang digandrungi muda-mudi,’’ ujar dara yang tinggal di Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding ini.
Dia mengungkapkan, semakin lama tahun pembuatannya dan tidak banyak dijumpai, harganya semakin mahal. Bahkan, hingga menyentuh angka jutaan. Dara yang pernah menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB) itu juga mengungkapkan, saat pandemi Covid-19, banyak masyarakat yang tidak bisa belanja ke luar negeri. Pilihannya adalah membeli barang bekas dengan brand tertentu. Tidak sembarang merek. Mereka biasa memlilih barang tertentu. Meski bekas, harganya masih tinggi. (dik)
Editor : Indra Gunawan