Radar Tuban - Kasus aktif Covid-19 di Tuban saat ini lebih mengkhawatirkan dari Surabaya dan Malang. Berdasarkan data Satgas Covid-19 Provinsi Jatim kemarin (10/2), Bumi Wali menduduki kasus aktif tertinggi kedua dengan jumlah 334 kasus.
Posisinya di bawah Trenggalek yang menempati peringkat pertama dengan 355 kasus aktif. Urutan selanjutnya Ponorogo (313 kasus aktif), Blitar (301 kasus aktif), dan Gresik (293 kasus aktif).
Kota Malang justru berada di urutan ketujuh dengan 275 kasus aktif. Sementara Surabaya menduduki peringkat 13 dengan 251 kasus aktif. Secara angka, dapat disimpulkan Tuban lebih berbahaya dari dua kota besar di Jawa Timur tersebut.
Karena itu, pengetatan protokol kesehatan harus lebih ekstra. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban Bambang Priyo Utomo mengatakan, urutan wahid secara bergantian ditempati Tuban dan Trenggalek. Artinya, urutan kasus terbanyak selama sebulan terakhir jadi langganan dua kabupaten tersebut. Ini yang menyebabkan Tuban sempat berstatus zona merah beberapa pekan lalu.
‘’Jika dibandingkan Surabaya dan Malang, angka kasus positif di Tuban mengagetkan,’’ ujarnya. Dokter lulusan Universitas Brawijaya (UB) Malang ini mengatakan, banyaknya kasus aktif disebabkan faktor tingginya pelanggaran protokol kesehatan. Ditambah lambannya penanganan mayoritas kasus Covid-19 bergejala. Ini yang memicu penularan ke orang terdekat. ’’Semakin diperbanyak tracing, semakin banyak yang diketahui positif,’’ terang dia.
Dengan pertimbangan tersebut, tim Satgas Covid-19 Tuban melakukan tracing tes polymerase chain reaction (PCR) yang cukup banyak setiap harinya. Harapannya, virus korona tak menulari lebih banyak orang di sekitar. ‘’Sehari rata-rata dilakukan 30-40 tes PCR. Terkadang lebih dari 100 tes,’’ ungkap Bambang.
Mantan kepala Puskesmas Tambakboyo ini mengatakan, Tuban memiliki mesin tes PCR sendiri. Keberadaan peralatan tersebut menjadikan tes swab bisa lebih banyak dan tracing bisa dilakukan lebih cepat. Dengan banyaknya tes yang dilakukan, kata Bambang, maka angka kasus Covid-19 baru yang diketahui semakin banyak. ‘’Semakin banyak yang dites PCR, tracing bisa lebih cepat,’’ ujarnya.
Editor : Indra Gunawan