Radar Tuban - Sebelum pandemi Covid-19, salah satu aktivitas siswa di sekolah pada jam istirahat adalah jajan di kantin. Tak jarang aktivitas di kantin itu tak terduga mendatangkan noda yang menempel di seragam.
Seperti saus, kecap, minyak, atau kotoran lain. Beberapa jenis noda yang menempel pada baju tak bisa hilang hanya dibilas air atau tisu basah. Keluhan itulah yang menjadi ide bisnis sejumlah siswa SMAN 1 Tuban.
Para siswa yang tergabung dalam Saglova, ekstrakurikuler kewirausahaan sekolah setempat tersebut lantas mencari solusi agar noda pada pakaian bisa hilang dengan singkat tanpa harus dicuci terlebih dahulu. Presiden Direktur Saglova Sorya Hastriningrum Denty Purwadi mengatakan, persoalan noda di pakaian ternyata sering dialami sebagian besar orang. Apalagi, mereka yang sering bekerja di lapangan.
Dia bersama teman-temannya kemudian mencari sejumlah opsi pembersih noda yang mampu bekerja cepat dan penggu naannya relatif mudah. ‘’Dari sejumlah referensi buku, kandungan kulit nanas bisa menghilangkan noda paling efektif,’’ kata Denty.
Pertimbangan dipilihnya kulit nanas karena limbah tersebut mudah ditemukan di Tuban. ‘’Kami melihat banyak sekali limbah kulit nanas di lingkungan kita. Ini yang kita manfaatkan,’’ kata dia. Setelah melalui berbagai percobaan, akhirnya ditemukan ramuan yang tepat untuk menjadi pembersih noda yang kemudian diberi nama Sticle, kepanjangan natural stain instant remove. Artinya pembersih noda instan berbahan alami.
Dalam uji coba, Sticle mampu membersihkan noda saus, kecap, minyak, dan noda ringan lain. ‘’Selain bermanfaat jadi pembersih noda, kami ingin berperan menjaga lingkungan dengan mengurangi limbah untuk jadi bisnis yang memiliki nilai jual,’’ujarnya.
Setelah formulanya ditemukan, anggota Saglova terpikir untuk mengemasnya seukuran aroma therapy atau minyak angin. Pertimbangannya untuk memudahkan membawa dan mengoperasikan. ‘’Cukup dioleskan pada noda yang menempel di baju, noda akan hilang dalam satu menit. Setelah itu, tinggal dibasuh dengan tisu basah,’’ terang alumni SMPN 1 Tuban itu.
Bungsu dari tiga bersaudara itu mengatakan, dalam mengembangkan usaha yang terpenting adalah memperhatikan 3P. Yakni, people, profit, dan planet (orang, ke untungan, dan lingkungan). Jika sudah memikirkan 3P tersebut, dia yakin sebuah usaha akan melesat dan dikenal masyarakat luas.
‘’Bisnis tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga harus berdampak bagi lingkungan serta masyarakat sekitar,’’ tegas dia. Saglova didirikan tidak hanya sebagai wadah berinovasi para siswa. Wajarnya sebuah bisnis, Saglova dibentuk mirip seperti sebuah perusahaan. Memiliki pimpinan, human resource development (HRD), hingga staf marketing.
Selain berinovasi, para anggota Saglova juga menjalankan roda perusahaan melalui penjualan produknya. ‘’Kami berinovasi sekaligus berlatih wirausaha,’’ tutur pelajar yang tinggal di Jalan Pahlawan itu.
Editor : Indra Gunawan