RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pemandangan tak biasa terlihat di SPBU Mlangsen, Kecamatan Blora. Antrean kendaraan yang ingin mengisi solar subsidi di jalur Blora–Randublatung tersebut mengular panjang hingga sekitar 120 meter.
Didominasi oleh truk dan warga yang membawa jeriken, para pelaju harus rela gigit jari menunggu giliran hingga satu jam lebih.
Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean panjang ini dipicu oleh tingginya ketergantungan warga terhadap solar subsidi.
Linda, warga Desa Jomblang, Kecamatan Jepon mengaku rutin membeli solar subsidi untuk kebutuhan alat pertanian, seperti traktor dan mesin selep. Saat ini ia membawa dua galon dengan total sekitar 30 liter.
"Untuk kebutuhan pertanian. Biasanya habis sekitar Rp 200 ribu sekali isi,'' ujarnya.
Baca Juga: Layanan Damkar Tidak Terkendalan Kenaikan BBM, Truk Pemadam Pakai Solar Subsidi
Menurut Linda, antrean yang dialaminya bisa mencapai sekitar satu jam. Untuk membeli solar subsidi, dia harus membawa KTP dan surat keterangan dari pemerintah desa yang menunjukkan solar tersebut digunakan untuk kebutuhan pertanian. Dokumen itu kemudian diperiksa petugas SPBU sebelum pengisian dilakukan.
Dia mengaku mengisi solar setiap dua hingga tiga hari sekali. Selama ini dirinya memilih SPBU Mlangsen karena sudah terbiasa melakukan pengisian di lokasi tersebut.
Dari rumahnya di Desa Jomblang, perjalanan menuju SPBU hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit.
Antrean panjang juga dirasakan salah satu sopir truk, Paijo. Dia mengaku harus menunggu sekitar satu setengah jam sebelum mendapat giliran mengisi solar.
Meski demikian, Paijo mengaku memaklumi kondisi tersebut. Menurutnya, petani dan sopir sama-sama membutuhkan solar untuk menunjang pekerjaan.
"Sesama orang kecil ya saling memaklumi. Petani butuh untuk traktor, kami juga butuh untuk angkutan. Kalau tidak diberi, alat pertanian juga tidak bisa jalan," katanya.
Paijo berharap harga solar subsidi tidak mengalami kenaikan. Sebab, jika harga naik, biaya operasional angkutan juga akan ikut meningkat dan pada akhirnya memberatkan masyarakat kecil.
"Kalau solar naik, ongkos angkut juga pasti ikut naik. Yang paling berat ya kami orang lapangan," pungkasnya. (ozi/ind)
Editor : Bhagas Dani Purwoko