RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Di sudut Dukuh Pojok, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora waktu seolah berjalan melambat bagi Sarni.
Di usianya yang kini menginjak 90 tahun, Sarni masih harus bersahabat dengan sunyi dan keterbatasan.
Tiga puluh tahun sudah, ia menghabiskan hari-harinya di sebuah rumah kayu berukuran 8 x 5 meter yang hingga kini masih beralaskan tanah.
Saat melangkah masuk ke dalam rumahnya, aroma kayu bakar langsung menyengat hidung.
Asap mengepul tipis dari dapur jelaga. Bagi keluarga Sarni, tabung gas LPG subsidi masih menjadi barang mewah.
Memasak dengan kayu bakar adalah pilihan paling realistis demi menyambung hidup.
Bukan hanya lantai tanah yang menjadi saksi bisu keteguhan hidup Nenek Sarni. Hak paling dasar seperti aliran listrik mandiri dan air bersih dari PDAM pun belum pernah singgah di rumahnya.
Jaringan kabel yang menggantung di langit-langit rumahnya bukanlah jalur resmi milik PLN, melainkan kabel numpang yang diulur dari rumah tetangga sebelah.
‘’Sudah puluhan tahun kami tinggal di sini. Sampai sekarang listrik masih menyalur dari tetangga karena belum memiliki sambungan sendiri,’’ ungkap Sukarjo, 66, putra Sarni.
Sukarjo sehari-hari berjualan es keliling di wilayah Kabupaten Blora untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Di tengah keterbatasan ekonomi, keluarganya belum mampu memperbaiki kondisi rumah yang ditempati sejak puluhan tahun lalu.
Di usia yang hampir menyentuh satu abad, Sarni kini lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.
Bangunan sederhana yang menjadi tempat berteduh selama puluhan tahun itu menyimpan berbagai kenangan perjalanan hidup bersama keluarganya.
Meski hidup serba terbatas, keluarga Sarni tetap berusaha menjalani kehidupan dengan penuh syukur.
Mereka berharap suatu saat dapat memiliki rumah yang lebih layak, agar Sarni bisa menikmati masa tuanya dengan lebih nyaman.
Baca Juga: Radar History: Ketika SDN 1 Donan Sempat Ambruk pada 2005 Silam, Dipicu Kayu yang Sudah Lapuk
Kepala Desa Buluroto Margono mengatakan, kondisi serupa masih dialami sejumlah warga lainnya.
Menurut dia, sekitar 25 warga di desanya hingga kini belum memiliki sambungan listrik mandiri dan masih menyalur dari rumah tetangga.
‘’Ada sekitar 25 warga yang masih menyalurkan listrik dari tetangga,’’ katanya.
Untuk kebutuhan air bersih, sebagian warga memanfaatkan fasilitas penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas), sementara lainnya masih menggunakan sumur manual.
‘’Pemerintah desa terus berupaya mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat, melalui berbagai program bantuan dan pembangunan infrastruktur dasar,’’ tuturnya. (ozi/ind)
Editor : Bhagas Dani Purwoko