RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pemutaran film dokumenter ‘’Pesta Babi’’ di Omah Talang Bocor Kridosono, Blora, berjalan lancar. Padahal, di sejumlah daerah lain kegiatan serupa sempat mendapat penolakan hingga dibubarkan.
Nonton bareng dan diskusi film karya Dandhy Laksono bersama Cypri Paju Dale tersebut diikuti berbagai kalangan. Mulai pelajar, guru, aktivis hingga mahasiswa asal Papua yang tengah menempuh pendidikan di Blora akhir pekan lalu.
Sedikitnya lima mahasiswa Papua hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya James, Melanesia dan Chris. Mereka turut membagikan cerita soal kondisi Papua saat ini usai pemutaran film berlangsung.
James, mahasiswa asal Timika menilai, film tersebut menggambarkan kondisi nyata yang terjadi di Papua. Terutama terkait kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan.
Baca Juga: Bersolidaritas untuk Papua, Penonton Film 'Pesta Babi' Kumpulkan Rp 500 Ribu untuk Donasi
‘’Film ini sangat menceritakan tentang Papua yang benar-benar terjadi di Papua,” ujarnya.
Dia mengaku tinggal di wilayah dekat area konsesi Freeport. Menurutnya, limbah tambang berdampak terhadap kehidupan masyarakat sekitar. ‘’Kita untuk bertani susah. Karena limbah yang turun dari Freeport merusak alam kita,” katanya.
Mahasiswa lainnya Melanesia menyebut, masyarakat Papua sangat bergantung pada alam. Namun, kondisi itu kini berubah seiring banyaknya perusahaan yang masuk ke wilayah mereka.
‘’Kita hidup dengan alam. Tetapi dengan masuknya perusahaan asing, menggusur hutan, kita bingung cari makan di mana,” tuturnya.
Sementara itu, Chris menyoroti dampak kerusakan lingkungan terhadap wilayah pesisir. Menurut dia, kualitas air laut di daerahnya mengalami perubahan.
‘’Di tempat saya, dampaknya ke kualitas air. Seperti di pantai kami, airnya sudah bukan air pantai umumnya. Butek,” bebernya.
Dia menduga kondisi tersebut dipicu limbah yang terbawa arus sungai hingga aktivitas penggundulan hutan dan pertambangan yang makin masif menggunakan alat berat. (hul/ind)
Editor : Bhagas Dani Purwoko