RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Tirto Merah Asih di Desa Blingi, Kecamatan Tunjungan mendapatkan sorotan tajam. Mitra dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut baru memasang instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Parahnya, limbah justru bocor hingga masuk ke persawahan.
Temuan tersebut menjadi perhatian serius dari Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Blora, yang mengusulkan penghentian sementara terhadap operasional dapur tersebut.
Fakta itu terungkap setelah Ketua Satgas MBG Kabupaten Blora yang juga Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini melakukan inspeksi mendadak (sidak) langsung ke lokasi.
Dalam sidak tersebut, Sri Setyorini didampingi Kepala Dinas Kesehatan Blora dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup meninjau lokasi, dengan dijamu aroma yang menyengat langsung dari luar.
Baca Juga: SPPG Pilang 2 Diduga Beroperasi Tanpa Ahli Gizi, Korwil SPPG Blora Bungkam
‘’Kami menindaklanjuti laporan dari warga bahwa IPAL-nya bocor hingga masuk persawahan. Dan kebetulan IPAL-nya baru dipasang, yang sebelumnya belum punya IPAL, hanya penampungan seperti sapiteng tidak memenuhi standar,’’ katanya.
Menurutnya, Satgas MBG sebelumnya telah menegaskan kepada seluruh pengelola dapur SPPG, agar memenuhi seluruh standar kelayakan operasional. Termasuk memenuhi sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) dan sistem IPAL yang sesuai ketentuan.
‘’Saya prihatin, kemarin kan satu bulan yang lalu sudah saya kumpulkan, bahwasanya saya nyuwun tulung (minta tolong, red), karena ini memang perintah aturan dari BGN bahwa harus ada SLHS dan IPAL, dan saya sudah beri waktu sampai dengan 1 April 2026,’’ katanya.
Ia menambahkan banyak SPPG di Blora saat ini masih banyak yang proses pemasangan IPAL. ‘’Saya rekap sama sekretaris satgas masih banyak yang masih pesan dan proses pengerjaan,’’ imbuhnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Yayasan Tirto Merah Asih, Ahmad Afif Jaelani Asy'ari menyampaikan, IPAL tersebut baru dipasang sebelumnya hanya bak cor atau penampungan.
‘’Sebelumnya yang kita lakukan, menyedotnya seminggu tiga kali,’’ ujarnya.
Ahmad menyampaikan, pihaknya sudah mengetahui limbah tersebut menimbulkan bau sudah tidak sedap hingga masuk persawahan. ‘’Saya sudah tahu. Sebelumnya saya sudah mengajukan pengadaan IPAL tersebut ke yayasan, namun prosesnya lama. Kemudian yang bisa saya lakukan penyedotan secara rutin yang sebelumnya tiga kali seminggu, bila masih bocor akan sekali sehari,’’ pungkasnya. (ozi/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana