RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kabupaten Blora tengah berduka. Pasalnya baru saja kehilangan seorang tokoh adat sesepuh Sedulur Sikep 'Samin' Karangpace, Klopoduwur, Mbah Lasiyo yang berpulang di usia 66 tahun pada Kamis malam (20/11) di RSUP. Dr. Kariadi, Semarang.
Kepergian Mbah Lasiyo menjadi duka bagi semua pihak, tak terkecuali bagi Bupati Blora Arief Rohman. Dirinya langsung mendatangi rumah sesepuh tersebut dan melakukan takziah bersama jajaran forkopimda.
“Saya mewakili Masyarakat Blora kami menghaturkan bela sungkawa atas kapundutipun Mbah Lasiyo. Beliau adalah sesepuh kita, tokoh panutan di Blora, tentunya kita kehilangan beliau, selama ini beliau mengajarkan bagaimana tentang kehidupan, ini sangat bermakna sekali untuk kita semua,” terangnya.
Bupati juga turut mendoakan Mbah Lasiyo, Ia juga berharap agar nantinya perjuangan dari Mbah Lasiyo dapat terus dilanjutkan.
“Kita berdoa semoga beliau ditempatkan disisi-Nya, diberikan tempat yang terbaik, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran, dan perjuangan Mbah Lasiyo bisa diteruskan oleh putra beliau dan tentunya kita semuanya,” harapnya.
Bupati Arief dan masyarakat Blora merasa kehilangan, Ia mengenang bahwa semasa hidup almarhum, Mbah Lasiyo dikenal sebagai seorang sesepuh adat yang berwibawa, sejuk, bijaksana dan mengayomi.
Menurutnya, Mbah Lasiyo adalah sosok yang sederhana dan dapat merangkul seluruh golongan. Sekaligus tokoh budaya yang terus aktif melestarikan kearifan lokal sedulur sikep "samin" di Kabupaten Blora
“Semenjak saya dulu menjadi Wakil Bupati, dan Bupati dua periode ini, beliau adalah tokoh yang mengajarkan tentang kebaikan, kejujuran, dengan orang tidak boleh dengki, iri, benci dan sebagainya,” ucap Bupati.
“Makna-makna kehidupan yang selama ini diberikan oleh beliau, tentunya kita ingin meneladani ketokohan beliau,” tambahnya. Bupati Arief sempat menceritakan bahwa saat Mbah Lasiyo dirawat di Rumah Sakit Blora, beliau masih dapat berkomunikasi dan bahkan sempat meminta didoakan.
Namun, ketika Bupati menjenguknya di RSUP Dr. Kariadi Semarang, kondisi beliau sudah mulai melemah. Ia juga mengungkapkan, dirinya berkunjung ke kediaman Mbah lasiyo ketika menjelang Muharram atau Suro beberapa waktu lalu.
“Terakhir ke sini menjelang Suronan kemarin, saya dan pak kapolres diminta menanggapkan wayang. Ketika suro ini beliau selalu ingin ada melestarikan kebudayaan, nguri uri kebudaayan,” paparnya
Prosesi pemakaman akan dilakukan siang harinya di area Situs Mbah Samin Suro Engkrek, yang berada tak jauh dari kediamannya. (hul/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana