BLORA, Radar Bojonegoro - Ali Munawar, 42, masih meratapi nasib keberlanjutan usaha pakaiannya usai kebakaran. Sebab, dirinya masih punya tanggungan pinjaman bank. Pinjaman itu sebelumnya digunakan untuk menambah modal usaha pakaian yang digelutinya selama bertahun-tahun di Pasar Ngawen.
’’Belum bisa mikir ke depannya ini bagaimana, masih ada utang di BRI yang harus dibayar, masih tersisa dua tahun,” ujarnya saat ditemui Radar Bojonegoro di lokasi Rabu lalu (10/1).
Munawar mengaku utang itu digunakan untuk mengembangkan usaha pakaiannya. Ia memiliki enam kios di Pasar Ngawen yang hangus terbakar. Tak lama sebelum terbakar, ia baru saja menyetok dagangannya. Ia berharap ke depannya ada keringanan beban pinjaman yang diberikan kepada para pedagang. ’’Harapannya, bisa dapat keringanan dari bank dan bantuan pemerintah,” katanya.
Tak hanya dirinya, banyak pedagang lain punya pinjaman modal usaha di Pasar Ngawen. Para pedagang pun masih belum memikirkan keberlanjutan usahanya. ’’Kalau kerugian saya sendiri sekitar Rp 300 juta,” ucapnya.
Hal yang sama dialami Sulastri, berharap ada kebijakan meringankan pinjaman di bank. Kebakaran melanda kiosnya berdampak pada keberlanjutan usaha, termasuk modal dan pembayaran utang dari pinjaman bank. ’’Saya harap ada keringanan, kalau bisa juga bisa mendapatkan modal lagi,” ucapnya.
Wakil Direktur BRI Cabang Blora Sugeng menjelaskan, pihaknya bakal melakukan verifikasi data pedagang Pasar Ngawen yang punya pinjaman di BRI. ’’Kami akan buat laporan secara detail nasabah dahulu, kami laporkan ke kantor wilayah kemudian ke pusat,” katanya.
Sugeng mengaku berkomitmen membantu usaha para pedagang terdampak agar bisa berjualan kembali. Namun, untuk kepastian skema bank dalam membantu pedagang masih menunggu kebijakan dari kantor BRI Pusat.
’’Nanti menunggu keputusan pusat, karena di cabang tidak bisa langsung memberikan kebijakan,”jelasnya. (luk/bgs)
Bupati Blora Bakal Ringankan Beban Pedagang
Nasib pedagang Pasar Ngawen terdampak kebakaran masih belum jelas. Terlebih, pinjaman bank yang masih jadi tanggungan pedagang. Mengingat tak ada pemasukan setelah barang dagangannya ludes terbakar, belum bisa berdagang.
Bupati Blora Arief Rohman mengatakan, pihaknya tengah cari jalan keluar untuk permasalahan kredit usaha rakyat (KUR). Namun, ia pastikan bakal koordinasi dengan perbankan di Blora untuk mengurangi beban pedagang terdampak. ’’Ini koordinasi dulu. Kami panggil bank-bank, nantinya didata dulu agar bisa diketahui. Para pedagang ini jangan sampai terbebani,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Dindagkop UKM) Blora Kiswoyo mengatakan, pihaknya sudah memberikan imbauan kepada perbankan di Blora. Khususnya, bank daerah. Menurutnya, hal ini penting.
Sebab, sumber mata pencaharian mereka ludes terbakar. Apalagi, mental pedagang sedang tidak baik-baik saja. ’’Pak Sekda kemarin langsung ambil langkah imbauan ke perbankan. Seperti Bank Jateng, Blora Artha, dan lainnya. Intinya, dikondisikan nasib pedagang itu. Kan kemungkinan juga banyak pedagang tercantum pada pinjaman KUR,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Menurutnya, keringanan yang diupayakan seperti relaksasi terhadap pinjaman KUR. Supaya, yang berkewajiban membayar tanggungan itu bisa terbantu.
’’Mereka (pedagang) bisa terbantu, ketika nantinya ada relaksasi di perbankan. Kewajiban mereka bisa dimudahkan. Intinya, jangan sampai membebani para pedagang terdampak,’’ terangnya.
Terpisah, Kepala Cabang Bank Jateng Blora Mulyanto menuturkan, pihaknya tengah mengumpulkan data terkait hal tersebut agar bisa terperinci. ’’Untuk itu, kami cek dulu. Dikumpulkan data-datanya dulu,” tuturnya saat dikonfirmasi melalui WhatsApp kemarin (11/1). (hul/bgs)
Editor : Hakam Alghivari