Usai subuh Pawon Mbah Minah sudah sibuk. Tungku yang menyala dan asap yang menerobos sela-sela genteng dan gedhek pawon (dapur) milik Mbah Minah. Sekitar pukul 05.30 hidangan pecel dan lauknya sudah tersaji di meja panjang.
“Bukanya pagi. Setengah enam sudah mulai buka ,” ujar Sulasmi, wanita berusia 60 tahunan yang juga anak dari Mbah Minah.
Sulasmi mengungkapkan setelah ibunya meninggal, dia meneruskan usaha ibunya hingga saat ini. Bermodal pengalaman yang diajakan ibunya. Sulasmi tampak telaten dan cekatan menyiapkan satu porsi nasi pecel dengan berbgai topingnya. Satu persatu pelanggan dilayaninya dengan cepat.
“Dulu ikut bantu ibu jualan pecel, pernah merantau ke Jakarta sekitar 5 tahun terus balik ke desa meneruskan jualan ibu,” jelas warga kelahiran Desa Wulung Kecamatan Randublatung tersebut.
Usaha kuliner pecel tersebut sudah berdiri sejak tahun 60 an. Dengan cita rasa yang masih khas. Dan suasana pawon yang masih awet seperti dahulu berlantai tanah. Para pengunjung dapat menikmati kuliner langsung di dapurnya dengan nuansa khas pedesaan.
“Menjaga cita rasa yang dahulu. Tapi rasnya masih enak mbok kulo, dulu ada penyek gendos gedang goreng,” ucap nenek 4 cucu tersebut. (luk/zim) Editor : M. Yusuf Purwanto