Ketua Tim Pelaksana CSR Pertamina Elas Rusdian Carios mengatakan, program PSLRB sudah berjalan sejak 2018 lalu. Kini masyarakat sudah mampu membuat produk pupuk organik sendiri dan berbagai macam produk herbal. Dengan pertanian system of rice intensification (SRI) berharap penggunaan pupuk organik semakin meluas.
‘’Petani diajarkan untuk belajar mandiri dalam pengelolaan tanaman dengan kearipan lokal,’’ ujarnya.
Elan mengungkapkan, produk herbal dari program PSRLB sudah terjual di luar daerah. Terdapat sekitar ratusan produk terbagi dalam 40 jenis. Program itu juga selaras dengan program bupati untuk menunjang perkembangan para petani milenial. Serta, meminimalisir penggunaan pupuk kimia yang semakin terbatas.
‘’Saat ini masyarakat yang mendapat pelatihan masih rutin mempraktekan hasil pelatihan yang diberikan,’’ jelasnya.
Selain Desa Bajo, juga terdapat Desa Tanjung, Sogo, Ngraho, Wado Kecamatan Kedungtuban dan Desa Sumber, Kecamatan Kradenan. Tahun ini CSR bakal diwujudkan berupa penanganan stunting yang juga menjadi program pemkab.
‘’Programnya menyasar anak-anak dengan memberikan makanan rutin selama 90 hari,’’ terangnya.
Ketua Kelompok Tani Binaan Pertamina Surat mengaku awalnya sempat pesimis dengan program yang digelontorkan oleh Pertamina itu. Sebab, pertanian organik identik dengan mahal dan ribet. Kini dia merasakan banyak manfaatnya untuk diri sendiri dan kelompoknya. Bahkan sekarang semakin gigih menggalakkan system SRI organik.
‘’Sekarang masih tetap berlanjut. Warga yang mendapat pelatihan masih rutin membuat pupuk, begitu juga produk herbal," terangnya.
Field Manager Pertamina EP Cepu Field Agung Wibowo mengatakan, program ini bisa berkelanjutan memberi dampak kepada masyarakat sekitar dan bisa mendorong terwujudnya kemandirian masyarakat. ‘’Semoga apa yang kami inisiasi ini bisa terus berdampak positif untuk masyarakat Blora khususnya daerah-daerah yang masuk prioritas,’’ ujarnya. (luk/*) Editor : M. Yusuf Purwanto