Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora Sri Widjanarsih menjelaskan, telah berkoordinasi mengantisipasi dampak cuaca ekstrem hingga November mendatang. "Kami sudah lakukan rakor (rapar koordinasi) hari ini (kemarin) antisipasi dampak cuaca ekstrem di daerah. Kalau puncaknya diperkirakan sampai awal Januari tahun depan," jelasnya kemarin (11/10)
Widjanarsih menjelaskan, semua wilayah menjadi objek perhatian dampak cuaca ekstrem. Tetapi, tujuh kecamatan menjadi perhatian yakni Kecamatan Todanan, Kunduran, Randublatung, Kradenan, Sambong, Cepu, dan Kedungtuban.
Data di dinasnya, tahun ini terdapat 93 bencana dari cuaca ekstrem meliputi 44 bencana angin kencang, 31 banjir, dan tanah longsor di 18 titik. Ia mengungkapkan, laporan terbaru angin kencang melanda rumah warga di Kecamatan Jati dan Kedungtuban. "Karena angin kencang atap rumah warga ada hilang," jelasnya.
Widjanasih mengimbau warga tetap waspada di manapun. Bencana alam tidak bisa diprediksi secara tepat. Terkait mitigasi, pihaknya mengaku sudah koordinasi dengan camat dan stakeholder lain. "Kami sudah turunkan surat edaran (SE) kepada camat menghadapi cuaca ekstrem. Kami siapkan beberapa peralatan," jelasnya.
Supriyanto, salah satu pemilik becak motor mengaku musim hujan saat ini tidak menyurutkan langkahnya mengangkut penumpang. Ia menyediakan kerudung di becaknya dan plastik penutup di depan becak menghalau hujan masuk jika memuat penumpang. "Saya tetap antar penumpang, walaupun hujan," jelasnya. (luk/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto