Perkembangan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) tidak terlepas dari Kota Cepu. Berawal dari rumah salah satu petinggi Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), saat ini Pusat Pengembangan Sumberdaya Manusia (PPSDM) Migas Cepu. Rumah ini gereja pertama digunakan GPdI.
Paham pantekosta terus berkembang, hingga kini ribuan pengikut di Indonesia. Bahkan sampai ke luar negeri. Pimpinan GPdI Blora Gideon Sele menceritakan, GPdI masuk ke Indonesia melalui Amerika pada 1921, dipelopori dua misionaris yakni Rev. Cornelius Groesbeek dan Rev. Richard Van Klaveren.
Keduanya merupakan keturunan Belanda menetap di Amerika. Tapi, saat itu tak lantas ke Cepu, awalnya berada di Bali. ‘’Tapi saat di Bali masyarakatnya banyak yang terus memegang adat istiadatnya, sehingga tak berkembang di Bali,’’ ujarnya. Kemudian dari Bali ke Jawa Timur, tepatnya di Surabaya pada 1922, setelah itu masuk ke Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora pada 1923.
Selanjutnya kedua pendeta ini bertemu dengan F.G Van Gessel, yang merupakan pegawai dri BPM. Van Gessel ini keponakan dari misionaris itu sendiri. Kalau pendeta Gideon menyebut Van Gessel ini adalah pimpinan BPM pada masa itu. ‘’Di rumah Belanda Nomor 13 di Jalan Hayam Wuruk, itulah ibadah pertama di Cepu dilakukan,’’ ceritanya.
Setelah sampai di Cepu, kemudian Van Gessel bersama dengan misionaris dari Amerika itu melakukan ibadah kecil dengan 10 orang. Di rumah yang dulunya dijadikan tempat singgah dan ibadah pertama itu, kemudian ada situs di wilayah Tempat Penampungan Kayu (TPK) Pasar Sore, KPH Perhutani Cepu. Sebuah bendungan tempat pertama dilakukan baptis umat pertama GPdI.
‘’Tapi dulu waktu saya ke sana bendungan buatan Belanda itu jebol,’’ jelasnya. Van Gessel dari Cepu kemudian menyebarkan paham Pantekusta, memilih menjadi pendeta dan meninggalkan pekerjaannya di BPM.
Sementara untuk nama GPdI, lanjutnya, baru ada pada masa penjajahan Jepang. Dulu namanya Pinksterkerk in Nederlansch Indie, namun pada masa penjajahan Jepang pada 1942, diubah menjadi Gereja Pantekosta di Indonesia.
‘’Karena pada masa Jepang semua di Indonesiakan, termasuk bahasanya,’’ bebernya. GPdI sudah peringatan ke 100 tahun, pada masa peringatan satu abad ini dilakukan pagelaran obor api, api itu dibawa dari Bali kemudian ke Surabaya dan ke Jawa Tengah yakni di Cepu. Dilakukan di rumah pertama Gereja Pantekosta itu. ‘’Sebelum ke rumah atas itu, ada ibadah sebentar di Gereja Pantekosta Cepu sekarang di Jalan Diponegoro,’’ pungkasnya.
Editor : Indra Gunawan