
Oleh : Bachtiar Febrianto, Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro
Ada masa ketika Bojonegoro dikenal karena kekayaan yang tersimpan di perut buminya. Minyak dan gas menjadikan daerah ini salah satu penopang penting energi nasional. Namun, sejarah mengajarkan bahwa kekayaan alam, sebesar apa pun, memiliki batas. Pertanyaannya, ketika suatu hari migas tidak lagi menjadi andalan, apa yang akan diwariskan Bojonegoro kepada generasi berikutnya?
Pertanyaan itulah yang membuat gagasan Bupati Setyo Wahono menjadikan Bojonegoro sebagai rujukan orang sakit, sebagaimana diberitakan Radar Bojonegoro, 25 Oktober 2026, layak mendapat perhatian lebih dari sekadar apresiasi seremonial pada Hari Jadi Bojonegoro ke-349.
Ini bukan hanya gagasan membangun sektor kesehatan. Jika dirancang dengan visi besar dan dilaksanakan secara konsisten, inilah peluang untuk mengubah arah pembangunan: dari daerah yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam menjadi daerah yang tumbuh melalui pelayanan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kualitas manusia.
Dari kekayaan alam menuju kekuatan pelayanan. Dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi yang merawat kehidupan.
Baca Juga: Catatan Menjelang Radar Bojonegoro Awards 2026, Menjaga Tradisi Prestasi, Menyalakan Inspirasi
Ketika Kesehatan Menjadi Masa Depan Ekonomi
Kesehatan adalah kebutuhan yang tidak pernah kehilangan relevansi. Manusia dapat menunda membeli kendaraan, mengganti perabot, atau berlibur. Namun, ketika sakit, kebutuhan mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat sering kali tidak bisa ditunda.
Perubahan pola penyakit, meningkatnya usia harapan hidup, serta kebutuhan terhadap layanan spesialis membuat sektor kesehatan memiliki prospek jangka panjang. Dalam perspektif ekonomi, kebutuhan tersebut dapat berkembang menjadi sumber pertumbuhan baru apabila didukung kualitas layanan dan tata kelola yang baik.
Malaysia dan Singapura memberikan pelajaran berharga. Keduanya mampu menarik pasien dari berbagai negara, termasuk Indonesia, melalui reputasi rumah sakit, kompetensi dokter, teknologi medis, dan pelayanan yang terintegrasi. Pasien tidak sekadar datang untuk berobat, tetapi juga menggerakkan industri pendukung, mulai dari penginapan hingga transportasi.
Bojonegoro tentu tidak bisa meniru mereka dalam semalam. Namun, tidak ada alasan untuk menutup peluang membangun keunggulan sendiri.
Bojonegoro memiliki posisi strategis di kawasan perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Potensi pasien dari daerah sekitar perlu dipetakan secara serius. Jika kebutuhan layanan kesehatan regional dapat dipenuhi melalui rumah sakit yang kompeten, Bojonegoro berpeluang menjadi simpul pelayanan kesehatan bagi kawasan yang lebih luas.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




