RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kasus kekerasan perempuan anak harus menjadi perhatian serius. Tahun lalu, kasus kekerasan perempuan anak di Kabupaten Blora mengalami tren peningkatan cukup signifikan.
Pemkab Blora melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Blora menggandeng lembaga internasional, guna menekan angka kekerasan perempuan anak kedepannya.
Kepala Dinas Sosial P3A Blora, Luluk Kusuma Agung Ariadi menjelaskan, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Blora mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.
"Di Tahun 2025 ada 25 kasus, lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya (Tahun 2024, red) hanya delapan belas," paparnya.
Kasus kekerasan perempuan dan anak yang lebih banyak terungkap ini sebenarnya menunjukkan jika sudah banyak yang berani bersuara.
"Hidupnya forum anak di Kabupaten Blora dengan membekali sebagai pelopor dan pelapor, dan bahkan masyarakat sendiri sekarang berani speak up datang langsung ke kantor," katanya.
Luluk membenarkan, pihaknya telah menggandeng United Nations Childrens Fund (UNICEF) sebagai upaya menekan kasus kekerasan perempuan dan anak di Kabupaten Blora.
"Kita selalu dipantau terus oleh UNICEF dalam rangka pendampingan terhadap kasus-kasus terhadap anak dan perempuan," terangnya.
Ia menambahkan, kerja sama ini tidak hanya dilakukan Tahun 2025 di Tahun 2026 juga mendapatkan pendampingan.
"Tidak semua kabupaten didampingi oleh UNICEF, tahun ini hanya lima se- Jawa Tengah," tambahnya.
Luluk mengaku akan melakukan pertemuan segera, guna mempercepat pembekalan untuk penanganan terhadap kasus-kasus yang ada.
"Saat ini saya kumpulkan tokoh masyarakat sepuluh desa dan sepuluh kecamatan, ada juga Babinsa dan Babinkantibmas," imbuhnya.
Menurut dia, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak bisa diukur dengan nominal. "Psikologi anak yang mengalami kekerasan itu akan dialami selama dia hidup," pungkasnya. (ozi/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana