LEMBAGA Pendidikan Islam dan Ponpes Al-Fatimah berawal dari gagasan Dr. KH. Tamam Syaifuddin, M,Si. Beliau adalah putra ke-12 dari pasangan K.H. Abdul Mukhti dan Nyai Hj. Siti Fatimah binti Kiai Nurhadi.
Kiai Tamam ingin mewujudkan impian ibu tercinta mempunyai ponpes. Agar mampu terus mensyiarkan agama Islam dan pendidikan. Amanah inilah yang dijadikan sumber motivasi, hingga membuahkan hasil yang luar biasa.
Dia mengkisahkan, awalnya, di rumah Jalan Pondok Bambu. Membuka Taman Pendidikan Quran (TPQ), madrasah diniyah, dan kursus bahasa inggris. Anak didiknya pun tidak hanya dari Kecamatan Bojonegoro. Tetapi, ada yang dari Balen, Sumberrejo, Dander, dan kecamatan lain.
’’Dulu santri baru 15 anak. Kemudian berkembang hingga 300 anak,” tuturnya. Melihat perkembangan dan respons masyarakat yang bagus. Kiai Tamam membuat pengajian rutin kitab Ihya’ Ulumuddin, menggandeng K.H. Nashiruddin Qodir, pengasuh ponpes Darut Tauhid Al Hasaniah Senori, Tuban.
Baca Juga: Laporan Dugaan Penganiayaan Santri Rencana Periksa Sejumlah Saksi di Ponpes Matholi’ul Anwar
Pengajian ini diikuti oleh wali santri TPQ, dan madin. Hingga akhirnya masyarakat umum turut serta. Dari situ banyak yang mengusulkan untuk membuka lembaga pendidikan formal.
Akhirnya, tercetuslah SMP Plus Al-Fatimah. Dan, akhirnya dipersiapkan pula asramanya.
Hingga kini seluruh jenjang pendidikan ada di Al-Fatimah. ’’Pertama buka SMP, alhamdulillah berkembang. Dan, kami buka SMA, RA, MI, dan terakhir IAI Al-Fatimah,” tuturnya. Kiai Tamam menyadari, tidak mudah mendirikan lembaga pendidikan formal. Apalagi berbentuk ponpes.
Karena membutuhkan pemikiran, keseriusan, dan kenekatan. ’’Jadi harus benarbenar niat, Bismillah. Cangcut tali wondo. Harus mau berkorban tenaga, dan pikiran.
Dan, ikhlas juga,” tambahnya.
Dia berpesan, dalam menyiapkan kurikulum, sumber daya manusia, sarana dan prasarana. Kalau tanpa didasari niat tulus, berjuang, ikhlas. Tidak akan bisa. Karena Al-Fatimah juga membantu siswa fakir miskin, yatim piatu, dan tidak mampu.
Baca Juga: Duga Ada Penganiayaan, Orang Tua Laporkan Tiga Teman Anak di Ponpes
Selama mereka mau belajar dan menunjukkan prestasinya. ’’Jangan punya niatan berbisnis. Karena tidak ada untungnya. Pasti rugi, tombok,” tegasnya. Proses dan pelayanan yang diberikannya maksimal, hingga mendapat respons bagus dan kepercayaan masyarakat.
’’Hal ini terbukti dengan banyaknya siswa kami yang berprestasi. Mulai tingkat kabupaten hingga internasional,” ujarnya. Hal itu membuat Ponpes Al-Fatimah juga banyak diisi santri berbagai daerah, dan pulau. Terbaru, Institut Agama Islam Al-Fatimah juga bekerja sama dengan kampus ternama luar negeri. Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, dan Universitas Islam Malaysia.
Diharapkan dengan kerjasama ini santri Al-Fatimah mampu termotivasi dan menjawab tantangan zaman. Guna menyongsong Indonesia emas 2045. ’’Sudah ada alumni Al-Azhar yang mengabdi di sini selama tiga tahun. Nantinya, ada pertukaran pelajar/santri dengan universitas luar negeri juga,” tutupnya. (*/tih)